Selasa, 08 November 2016

Puisi (3)

Sebelum Sudah

Bisa Tidak?
Sejenak saja gunakan waktumu untuk tidak bermain-main di dalam ingatanku? Tidak hadir di setiap pendar lampu-lampu jalan. Tidak mengganti bunyi detak jam dinding dengan tawamu yang menjanjikan. Tidak membelaiku lewat semilir angin malam saat aku jalan mencari makan. Tidak berhamburan layaknya isi jalan metropolitan sekembalinya aku dari peraduan. Tidak menghangatkan tubuhku melalui setiap teguk kopi yang telah mendingin di tengah malam.

Bisa tidak?
Ajari aku bagaimana caranya untuk tetap tenang sepertimu, dengan ada atau tanpa sesuatu yang harus kau tahan dan kenang sendirian. Atau kalau mau, kau bisa menceritakan banyak hal yang pernah kau alami, yang nantinya akan membuat tidak terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan menjengkelkan yang kuajukan. Tenanglah, telingaku tidak lebih terbuka dari kesediaanmu untuk menjawabnya, aku takut akan terkesan memaksa.

Bisa tidak?
Bayangkan kalau dirimu adalah sebuah tujuan, yang sebagaimana sebuah tujuan. Ia tetap, tidak lari agar dikejar, tidak sembunyi agar dicari, dan tidak abai agar diratapi. Aku rasa tidak, karena kau tak pernah mau tahu siapa dirimu. Akan kutuliskan siapa dirimu, kau adalah daun yang gugur dan terbang tersapu angin–dan angan. Dan aku adalah ranting yang hanya bisa diam–dan jatuh kemudian.

Jumat, 04 November 2016

Dari Saya Untuk Hari Ini

Terlepas dari Pro-Kontra mengenai demonstrasi hari ini. Saya pribadi menganggap kalau ini adalah hal yang berlebihan--bukankah yang berlebihan itu tidak baik? Wahai Habib-habib kecil, atau jika boleh berlebihan, wahai Tuhan-tuhan kecil.

Saya sendiri melihat masalah ini diawali oleh salah seorang (tentu saja dia adalah orang penting) yang membawa salah satu ayat al-Qur'an di dalam sebuah pembicaraan--yang mungkin banyak orang berpikir bahwa seorang itu bukan bagian dari umat yang dianugerahi kitab al-Qur'an.

Mereka merasa ini adalah sebuah penistaan. Apa boleh buat, sakit hati memang benar-benar menyakitkan. Tetapi mereka juga bebal dengan satu ilmu yang diajarkan semua agama, yaitu toleransi. Bukankah Tuhan memang bersengaja menciptakan makhluk yang berbeda-beda adalah untuk tujuan yaitu sebuah kerukunan--saling melengkapi.

Mereka juga benar, membela hal yang sepatutnya dibela. Dahulu, para semut berbondong-bondong membawa air pada saat Nabi Ibrahim a.s dibakar, makhluk lain berkata "sia-sia saja yang kau lakukan wahai para semut, airmu tidak akan cukup untuk memadamkan api itu.", Lalu para semut menjawab, "biar saja air ini sia-sia, yang kami lakukan adalah bentuk pengabdian kami kepada Allah." Nabi Ibrahim a.s memang tidak dapat terbakar api itu, tentu saja Allah tidak mengizinkannya--karena dia kekasih Allah.

Mungkin mereka (yang berdemonstrasi hari ini, berpikir layaknya semut dahulu), tidak masalah. Yang jadi masalah, apa benar mereka membela Allah? Ini hari Jum'at, saya tidak yakin di antara mereka semua akan melaksanakan kewajiban itu. Entah dikarenakan hal apa pun. Bukankah akan sangat memalukan, di sisi lain mereka berkoar-koar meneriakkan Allahu Akbar, tetapi muadzin yang meneriakkan Allahu Akbar mereka abaikan. Maafkan jika saya bersangka-sangka, kita lihat sendiri saja nanti, semoga ada media yang menyorotnya.

Apa benar mereka membela Tuhan, di sisi lain mereka melupakan sesuatu yang diajarkan Tuhan, yaitu toleransi. Mari mengingat lagi peristiwa Tanjung Balai, di mana Vihara-vihara dibakar, apa yang mereka lakukan? Membawa ke ranah hukum menjadi sebuah penistaan? Berdemonstrasi berlebihan? Silakan kalian jawab sendiri.

Tentu saya juga tahu, hal ini bukan hanya kepentingan sebuah penistaan agama semata. Lebih dari itu semua, ini adalah pesta politik yang diracik sedemikian rupa. Negaraku memang mengagumkan, negaraku juga menyedihkan.

Akhir kata, selamat hari Jum'at. Saya tidak turun ke jalan. Selamat pagi. Allahu Akbar!!!

Minggu, 30 Oktober 2016

Puisi (2)

Sekarang Kamu Bisa Tenang

Ada lebih banyak kedukaan-kedukaan yang telah selesai kukuburkan. Kamu tahu? Kesederhanaanmu ada di sampingku adalah salah satunya. Kamu mungkin akan menganggap ini sebuah hal yang membuang-buang waktu, tapi kamu juga harus tahu, manusia akan menggila saat dihadapkan dengan kerinduannya.

Akan banyak kemungkinan-kemungkinan yang salah satunya pasti kamu rasakan. Mungkin kamu akan memilih diam saat menghadapi orang pandir sepertiku. Karena jika kamu menanggapi rindu-rindu yang kuajukan, sudah pasti kamu akan kewalahan.

Mungkin juga kamu akan berpura-pura, dengan harapan kamu tidak menyakiti lebih banyak lagi hati. Bagiku tidak, kesakitan orang yang mulai mencintai dan melibatkan rindu, adalah bentuk nyata dari ketaatan akan sebuah hukuman.

Aku memang terlambat mengatakan maaf, tetapi sepertinya rinduku sudah lebih dulu memiliki rasa tahu diri. Ia sadar, kamu anggap ada adalah sebuah kemustahilan, mungkin karena itu juga yang membuatnya berontak dan merepotkan.

Sebelumnya, aku selalu berprasangka semacam itu di setiap malam. Tapi tidak untuk sekarang, aku lebih mampu berdamai dan berkawan dengan rindu itu, sampai batas waktu saat kamu bilang "aku juga merindukanmu".

Bekasi, Oktober 2016
kitabgundul.tumblr.com

Senin, 17 Oktober 2016

Puisi

Kepada Orang Yang Baru Patah Hati (KW 2)

Kepada orang yang baru patah hati. Kau tidak benar-benar terluka, bukan? Menatap nanar rinai hujan sendirian di teras depan dengan segelas anggur di meja bukanlah suatu masalah yang merepotkan. Kau hanya ingin melihat sesuatu yang jatuh tidak selamanya menyedihkan, banyak yang di dalam keterjatuhannya ada sesuatu yang ingin dia angkat atau ingin dia lindungi--salah satunya, hati yang kau miliki.

Kepada orang yang baru patah hati. Kau hanya sedang bermasalah dengan nafsu makan, benar? Menikmati secangkir kopi sendirian di kafe yang menyajikan pendar lampu kekuning-kuningan sudah menjadi hal yang biasa, kan? Senyum tulus para Barista bisa kau curi untuk kau pasang di bibirmu, bahkan kau bisa mendapatkan lebih banyak lagi senyum tulus yang memang hanya untukmulah ia tercipta. Seperti saat kau berikan uang kembalian kepada juru parkir yang sudah memenuhi kewajibannya menjaga sesuatu yang bukan miliknya.

Kepada orang yang baru patah hati. Kau hanya terlalu banyak tugas yang harus segera kau selesaikan, bukan? Masih terjaga di pukul dua malam dan melupakan rencana tidur awalmu adalah hal yang wajar. Bisa juga sesekali kau bayangkan mereka yang terpaksa menaruh peruntungan di lorong-lorong pasar, di kolong-kolong jembatan, yang tidak lagi peduli dengan tidur malam.

Kepada orang yang baru patah hati. Kau akan punya pilihan antara menangisi atau membanggakan hati yang patah itu, kau tidak akan pernah disebut sebagai orang yang salah saat air matamu tumpah. Kau juga tidak akan pernah disebut sebagai orang yang bebal saat kau merasa bangga bahwa patahnya hatimu sama sekali tidak mengubah haluan untuk terus membuat tenang orang-orang di sekitarmu dengan terus adanya senyum di bibirmu.

Kepada orang yang baru patah hati. Ambil patahan hatimu, ajak ia untuk berkenalan, jadikan ia sebagai teman. Kau lebih mampu memahami perasaan temanmu dibanding perasaanmu sendiri, bukan? Berceritalah antara kau dengannya, boncengkan ia di jok belakang motormu, ajak ia berkeliling kota mengunjungi tempat-tempat yang baru--dan tentu saja, kebahagiaan yang baru.

Bekasi, 12 Oktober 2016
kitabgundul.tumblr.com

Sabtu, 10 September 2016

Siapa Saja Boleh Belajar

Mungkin ada benarnya juga, atau karena rasa minder saya saja. Di luar sana, pasti banyak sekali yang sekadar membicarakan atau bahkan misuh-misuh sendiri kepada orang-orang semacam saya. Yang hanya lulusan SMA, tapi mulutnya dipaksa bicara sekelas Mahasiswa. Pasti itu, saya haqqul yakin.

Ya mau bagaimana lagi, setiap manusia kan memiliki seleranya sendiri-sendiri. Serasi atau tidaknya, kembali lagi kepada selera. Jadi, ya, bebas mbok?

Begini, Mas, Mbak. Sebetulnya kowe-kowe pada, tahu apa tidak sih, hakikatnya manusia diciptakan kemudian berpasang-pasangan-- kemudian membuahkan hasil dari bertemunya dua anu, itu untuk apa? Bukankah untuk belajar tho? Nah bicara tentang belajar, menurut Anda belajar itu seperti apa sih? Apa bocah berpakaian putih-merah yang mendewasakan diri, apa adek-adek berseragam putih-biru yang kelakuannya bikin sakit mata, apa mereka yang berseragam putih-abu-abu yang jadi bintang sinetron pembobrok generasi, apa mas-mas dan mbak-mbak berseragam almamater yang pinter-pinter itu, apa?

Menurut saya, belajar bukan tentang tempat pelaksanaannya. Tetapi prosesnya, yang di mana pun dan kapan pun, bisa. Dan yang paling penting dari belajar adalah pelajarannya, yang datangnya bisa dengan cara apapun, dan datang dari siapa pun, tanpa terkecuali.

Minggu, 24 Juli 2016

Be A Picker

Jadi ceritanya, beberapa waktu yang lalu, saya ngeliat ada hestek yang membikin jantung saya makjegagik seketika. #BeAPicker, adalah hestek yang saya temukan di facebook, dari sebuah official account apa gitu, lupa namanya. Kalo nggak salah, #BeAPicker artinya "jadilah pemetik" gitu, kan?

Mungkin kita disuruh jadi petani ya? Eh bukan, maksud saya, gampangnya begini; kata 'Be A Picker' tanpa sadar menyuruh kita untuk menjadi seorang pemetik/penerima. Kalau menurut saya, pemetik di sini adalah tentang sebuah hasil, di mana kita diperintahkan untuk mengambil sisi tersulit darinya, apalagi kalau bukan "menerima".

Bukahkah terkadang kita masih saja misuh-misuh dengan hasil dari usaha kita. Entah itu nembak gebetan, melamar pekerjaan, melamar istri orang, atau apapun yang hasilnya kita idam-idamkan. Nah, dengan adanya hestek ini, tanpa sengaja saya pribadi menjadi tergugah hati dan pikirannya. Bahwa dari setiap hasil yang kita dapatkan (baik negatif maupun positif), seharusnya kita berpikir lebih dalam dan memetik sebuah pelajaran.

Contohnya;

Doni adalah seorang mas-mas berdarah Jawa (yaiyalah, kalo darah Sunda mah sebutannya akang, gblg!), dia sudah lama naksir kepada Iwan, eh maksud saya Intan, gadis manis dengan bulu mata lentik, berkumis tipis, rajin beribadah dan pintar memasak.

Sudah tiga tahun lamanya, Doni memendam perasaannya kepada Intan, lalu di tahun keempat ini, Doni berjanji kepada diri sendiri untuk memberanikan diri menyatakan cinta kepada Intan.

***

Setelah habis tiga batang kretek dan se-ember kopi hitam di warung Bu Ratinah, tibalah saat yang dinanti-nantikan Doni. Intan pulang dari masjid bersama sepupunya, Shinta.

***

"Assalamualaikum, Intan, Shinta"
"Waalaikum.."
"Tan, boleh aku ngomong sebentar sama kamu? Shin, bisa tinggalkan kami berdua? Maaf." dengan tergesa-gesa Doni berkata.
"Oh iya nggak apa-apa, Don. Aku juga buru-buru, kebelet eek, ehe ehehe." Shinta pun ngiprit meninggalkan Doni dan Intan berduaan di bawah lampu jalan.
"Mau ngomong apa, Don?" Jawab Intan dengan menundukkan mukanya.
"Tan, sebenernya... Sebenernyaaa.... Seb.. seb.. sebenernyaaa udahempattahuniniakunaksirkamuTan" jawab Doni sambil menggenggam tangannya sendiri.
"Maaf, kamu ngomong apa, Don?"
"Sebenernyaa selama empat tahun ini aku naksir kamu, Tan. Dan baru sekarang aku berani ngomong sama kamu. Selama empat tahun ini, aku lihat kamu juga ngga pernah dijemput atau didatengin cowok. Kamu jomblo kan, Tan? Kamu mau nggak jadi patjarku? Aku tulus sama kamu, Tan. Aku bener-bener suka kamu apa adanya." Akhirnya, Doni pun mengatakan apa yang selama ini ia pendam dalam-dalam (kurang lebih 10m di bawah tanah).
"Sebelumnya aku minta maaf, Don. Aku juga tau kalo kamu cowok baik-baik, nggak pernah ikut temen-temenmu nyolong mangga di depan rumahku, nggak pernah ngatain Abahku botak, dan kamu juga cowok yang pinter, bertanggungjawab dan dapat dipercaya, juga suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan." Jawab Intan dengan sedikit mengutip Dasa Dharma Pramuka.
"Terus, kamu mau jadi patjar aku, Tan?" Doni berbicara dengan mata berbinar.
"Maaf, Don. Aku nggak bisa nerima cinta kamu, kita temenan aja ya?" Jawab Intan.
"Tapi, Tan..." Jawab Doni seperti menahan perkataan, dipandanginya langit yang penuh bintang kejora.
"Maaf Don, tapi aku bener-bener nggak bisa. Udah ya, ntar batre aku abis." Jawab Intan sembari berjalan meninggalkan Doni sendiri, saya ulangi, sendiri.

Doni pun hanya bisa diam, dengan tatapan yang masih terpaku lurus ke angkasa, mungkin ia sedang menghitung berapa banyak bintang.

***

30 menit berlalu, Doni pun meninggalkan warung Bu Ratinah dengan pikiran-pikiran berbagai hal. Tapi ada satu hal penting yang ia pikirkan.

Ia bergumam, "Mungkin benar, akan sangat sulit untuk menyatukan dua hal yang ditakdirkan berbeda oleh Tuhan, apalagi kita sama-sama umat yang taat kepada ajaran masing-masing. Mungkin menurut Tuhan, yang terbaik untukku adalah yang seumat denganku."

***

Nah, dari contoh di atas, bukankah jelas terlihat betapa hebatnya sebuah perasaan menerima? Jadi, #BeAPicker termasuk menjadi kata yang mampu membuat hati dan pikiran saya bergetar, laksana menjumpai Mbak-mbak cantik yang say hello kepada saya.

"Kok bisa gini sih? Kok mantep banget sih? Wah wangun tenan iki? Uapik tenan iki, rek?"

Seperti itulah pertanyaan yang ada di pikiran saya ketika pertama kali melihat hashtag ini di facebook, cuma tiga kata, kok maknanya dalem sekali, gitu. Mirip sama "I Love You", ya, Mbak?

Sekian. Capek bacanya ya? Wkwkwk

Sabtu, 23 Juli 2016

Perubahan

Setelah melakukan riset yang lama dan seksama. Tentang kopasan quote pasaran "Melangkah ke depan", atau "Menatap masa depan" mungkin maksudnya move on, dan/atau menggapai mimpi, atau hal-hal lain yang berdasar sama, "Perubahan". Atau mungkin tanpa maksud yang konkrit (baca : cuma ikut-ikutan kopas biar kekinian), kok lucu. Hahahaha

Nah bicara mengenai perubahan (baik), setiap orang pasti menginginkannya, entah itu; diri sendiri, keluarga, sampai sebuah negara. Betul? *iyain aja Plisss*. Dikarenakan saya adalah salah satu rakyat jelata yang peduli akan perubahan negeri ini, maka yang akan saya bahas di sini ya perubahan bangsa ini. Monggo diwaos (silakan dibaca).

Perubahan, dari yang buruk menjadi yang baik, dari yang baik menjadi lebih baik. Bicara perubahan suatu bangsa (maksud saya, generasi yang ada di dalamnya), sepertinya setiap orang akan sama; menuduh sistem pemerintahan yang tidak transparan, atau menuduh pemimpin negara yang tidak mendengarkan keinginan rakyatnya. HEEEEEYYY!!!! Bangun!!! Kerja!!! Hahahaha. *eh, itu sih lagunya Almarhum Mbah Surip ya. Ehe ehehehe*

Kalau kita hanya menyalahkan sistem pemerintahan dan pemimpin, mau sampai zaman Nenek Tapasha tobat, sampe Tukang Bubur Pulang dari Naik Haji juga nggak bakalan jadi. Perubahan ya dimulai dari hal-hal yang paling kecil, nah dalam suatu bangsa, hal-hal kecil itu ya kita ini, penduduk yang tinggal di negeri ini. Kalau bukan dari kita siapa lagi? Mantan?? Hassshh, ngawur!

Mari kita mulai;

Pertama, tentang generasi harapan negeri ini yang semakin hari kegilaannya semakin menjadi-jadi. Kita lihat di media sosial, saya akan mengambil contoh Fa*eb*ok. Karena memang di media sosial inilah kegilaan dan kebobrokan sebuah generasi terpampang dengan jelas di setiap postingannya. Open Boomlike, Chat Aku Dong, Promote Teman, Pamer Belahan Dada (ini yang saya tunggu), dan masih banyak lagi sampah yang dihasilkan generasi penerus bangsa di sana. Atau yang lagi hangat-hangatnya dibicarakan, si mbak cantik yang sekarang dijuluki "Drama Queen" di sosial media, siapa lagi kalau bukan Awkarin.

Nah, bagaimana cara mengubahnya?

Jawabannya ada di diri kita masing-masing. Saya beri contoh; simple saja, tidak perlu mencari perhatian hanya untuk mendapatkan 'Like' yang tidak lagi berguna. Like tidak akan menambah kapasitas pengetahuan Anda. Di saat orang lain sibuk memikirkan bagaimana jika Awkarin baru bermunculan, kalian masih sibuk cari perhatian dengan status "Pokemon aja dicariin, masa aku enggak". Hasshhh!!! Ra masuk.

Kedua; dari pergaulan mereka (adek-adek saya yang masih berseragam putih biru atau putih abu-abu) yang semakin hari semakin saya sayangkan. Seperti pacaran yang sangat belum waktunya, okelah kalo cuma jalan-jalan cari pengalaman. La kalo cari pengalamannya bukan jalan-jalan, tapi Anjal-anjalan? Mau ditaruh di mana masa depanmu, Nduuuuuk??? Juga gaya hidup yang kekinian tai-taian, distro-is, urbex-is, hash mbuh apa lagi, yang memerlukan banyak biaya hanya untuk dipandang keren dan idola. Idola NDHIASMU!!! Dan masih banyak lagi hal yang sebenernya kurang atau bahkan tidak bermanfaat.

"Biar pengalaman dan nggak ketinggalan zaman, Boss"

Pengalaman ndhiasmu? Pengalaman, memang perlu datang dari sesuatu yang tergambar dari sebuah perkataan ini "Kalau masih ngambek dibercandain, berarti mainmu kurang jauh, tidurmu kurang malem", tapi bukan berarti kowe-kowe pada keluyuran nggak jelas sambil cekikikan kaya orang mabok Pep*odent.

Mainlah ke banyak toko buku, jadi main jauhmu terlaksana. Dan baca banyak buku, jadi tidur malammu terlaksana. Beres kan?

"Masa hidup sesepaneng itu, Boss?"

Ya enggak juga kali, saya juga nggak kuat kalo terus-terusan kaya gitu. Seenggaknya hindari main cuma buat dateng ke tempat yang Instagram-able, dan ngabisin banyak duit buat beli baju distro yang katanya keren dan anggur yang katanya enak.

Jadi, sudah jelas bukan? Siapa yang seharusnya berperan dalam suatu perubahan?

Sekian.

Jumat, 22 Juli 2016

Jangan Salah di Informasi

Sekarang, ada dua jenis manusia yang berbeda di Indonesia;

pertama, orang yang masih sibuk nyari link download game Pokemon Go, sama orang yang masih bingung Awkarin itu obat flu dan batuk jenis apa. kedua, orang yang udah bosen Pokemon Go, bahkan mau bikin game sendiri (misal: The Adventure of My Ena-ena), dan orang yang udah ngelothok sama Awkarin beserta kisah cintanya, bahkan tahu size berapa dan apa model dalemannya.

Di kedua jenis manusia tadi, saya termasuk jenis pertama. Karena saya juga lebih bahagia jadi yang pertama, apalagi di hatimu, Dek. :)))

Oke, saya lewati dulu Pokemon dan berbagai macam artinya, juga Awkarin dan Dada-nya, eh maksud saya Gaga-nya.

Saya cuma mau bahas tentang balon yang ada di video terbarunya Awkarin itu, keren anjir, balonnya nyala-nyala. Itu gimana caranya sih? Beli di mana ya? :((( Nggak nggak, bukan itu. Saya cuma mau bahas tentang proses dari ilustrasi yang saya sebutkan di atas; cara menangkap informasi.

Kalo ngomongin masalah informasi, zaman sekarang siapa sih yang nggak dapet informasi (dan harusnya sih dapet), khususnya melalui gadget dan sosial media (misal dari grup, status teman, postingan official account, atau apalah), tinggal diri kita sendiri aja yang mau gimana nangkep dan nyari lebih banyak lagi. Karena masih banyak orang yang hanya tau dari judul, langsung klik share tanpa ba bi bu.

Lihat aja di facebook, orang yang pada share akun-akun nggak jelas yang mengatasnamakan Pipiek Dian Irawati lah, Ust. Yusuf Mansyur lah, Raffi dan Nagita lah, atau siapa saja yang nggak jelas asal-muasalnya. Itu karena mereka dapet informasi yang menurut mereka valid, padahal akun-akun orang besar seperti mereka hampir pasti sudah di-verified, dan tanpa ada embel-embel "like dan bagikan, kalo nggak kalian bakal bintitan segede bola kasti tepat di jidat". Karena dengan sendirinya, orang pasti akan tertarik untuk menyukai dan membagikan sebuah postingan (kalau nemang postingan itu menarik dan bermanfaat bagi orang lain). Dan kalau kalian kira postingan-postingan dari akun yang nggak jelas siapa itu bermanfaat, ya berarti ada yang salah dengan diri kalian dalam menangkap informasi. Wallahualam bisshawaab.

Sedikitnya ada tiga proses yang sebaiknya dilakukan sebelum kalian membagikan sebuah postingan;

Pertama, ketahui dan cari tahu lebih banyak hal apa yang sedang hangat dibicarakan banyak orang, baik di kehidupan nyata, atau di dunia maya.
Kedua, baca postingan itu sampe selesai, kalau perlu diulang-ulang sampe kita bener-bener faham apa maksud dan tujuan postingan itu.
Ketiga, cari sasaran siapa saja yang akan Anda bagi informasi itu (entah itu pacar, gebetan, selingkuhan, pacarnya gebetan, pacarnya selingkuhan, atau membagikan kepada sosial media lain), lalu klik tombol 'share'.

Selesai. Kalau memang mereka yang anda bagi informasi adalah orang yang suka mencari tambahan ilmu, mereka akan mengajak anda berduskusi membahas hal yang anda bagi tadi. Dan kalau mereka tidak bereaksi, ya mungkin karena mereka sudah banyak tahu sebelum anda bagi infornasi, atau bisa juga mereka tidak tertarik dengan hal yang anda bagi, atau bisa jadi mereka tidak tahu sedang berada di zaman apa, yang membuat mereka apatis dengan informasi, yang menjadikan mereka orang yang ketinggalan zaman.

Akhirul kalam, mari lebih banyak baca lagi.

Senin, 20 Juni 2016

Negeriku Sayang Negeriku Malang

(Balada bencana Tambak dan apatisme di dalamnya)

Alkisah di sebuah negeri, dengan ketentraman pribadi, hiduplah banyak sekali warga yang ada di dalamnya. Dari berbagai generasi, dari berbagai kualitas pribadi, dan tidak ketinggalan kualitas akademis. Mereka hidup saling berdampingan, tentu saja dengan tenang (yang dibuat sendiri), dengan nyaman (yang dibuat sendiri), dan dengan segala apapun yang mereka buat sendiri. Entah karena mereka semua mempunyai sikap mandiri berlebih, ataupun karena memang sikap tidak peduli yang diberi tedeng alih-alih.

Pada suatu hari, terjadilah sebuah bencana, hujan turun tidak sebagaimana biasanya, yang menggemparkan negeri itu, memporak-porandakan sebagian wilayah yang ada di dalamnya, dan menghilangkan ketentraman yang ada di sana. Entah apa penyebabnya; mungkin alam yang sudah lelah dengan kasih sayang yang dibalas dengan kekejaman, atau mungkin pemilik semesta sedang ingin bercanda dengan warga di sana, atau hanya sebuah ujian kecil bagi setiap individu yang sebelumnya mampu mengahadapi sesuatu dengan dirinya sendiri, agar mereka sadar bahwa seharusnya mereka saling berbagi. Entahlah, semuanya bisa saja terjadi.

~~~

Mereka berlarian, untuk menunggu. Menunggu air pergi, untuk kemudian kembali disibukkan dengan diri sendiri. Tidak berselang waktu yang lama, akhirnya air pergi dengan sendirinya, mencari tempat untuk beristirahat setelah dilelahkan dengan candaan mereka kepada warga. Lalu dimulailah sebuah babak baru, di mana semua penghuni negeri disibukkan dengan dirinya sendiri. Benar, dirinya sendiri. Di satu sisi ada sekumpulan warga sibuk membenahi keperluannya sendiri, di sisi lain ada sekumpulan warga yang dengan besar hati menyampingkan egonya, untuk membantu warga yang dibercandai semesta, dan di sisi lainnya ada sekumpulan warga yang sedang sibuk dengan urusannya.

Entah kenapa? Semesta belum mampu menyatukan mereka. Mungkin lain kali, dengan bercandaan yang lebih lucu lagi. Bisa jadi segera, atau waktu yang lama. Siapa yang tahu?

~~~

Sebelum ini, ada bencana yang menimpa sebuah negeri lainnya. Sedikit berbeda, di sana semesta tidak begitu bercanda, mungkin hanya seperti lirikan mata. Adalah seorang pedagang tua, yang diangkut paksa dagangannya oleh penguasa negeri itu, mungkin hanya salah paham, atau kesengajaan dari bentuk kekuasaan, saya sendiri tidak tahu. Tak butuh waktu yang lama 'BOOM!!!' meledaklah sebuah perasaan yang sama, perasaan yang bersatu padu. Menciptakan gelombang kepedulian yang begitu besar, jika ukuran gelombang itu adalah uang, pastinya tidak akan ada seorang manusia pun yang akan mengingkari kebesarannya. Rp. 267 juta, itulah besar gelombang kepedulian yang mampu terkumpul, atas dasar rasa yang sama, peduli.

Tetapi berbeda dengan negeri ini, seperti tidak ada yang namanya peduli di sini. Entah harus bagaimana lagi, entah siapa yang harus disalahkan atas hilangnya peduli di sini. Apakah warga biasa yang pengetahuan moral dan kepedulian di bawah rata-rata? Ataukah seluruh warga tanpa status akademis yang menjadi acuannya? Atau juga warga yang diberkahi dengan status akademis yang dimiliki, yang pastinya pengetahuan moral dan kepedulian lebih tinggi dari warga lainnya?

Tidak tahu, saya tidak mampu untuk menjawabnya. Di satu sisi ada warga yang sibuk dengan tempat tinggal mereka yang hanyut terbawa air, yang menyebabkan mereka hanya mengurusi diri sendiri. Di sisi lain ada warga yang sibuk dengan; anak, istri, kekasih, kesenangan, kenarsisan, kebodohan, pekerjaannya dan semua kesibukan pribadinya, tetapi ada yang mampu mengesampingkan ego dirinya sendiri untuk membantu sesama. Dan di sisi lain ada warga yang disibukkan dengan kegiatan akademisnya, entah itu skripsi, praktikum, presentasi, atau bisa juga kekasih hati, yang untuk peduli saja, mereka tidak punya sedikit waktu tersisa. Apa mungkin mereka tidak mau menyisakan waktu untuk itu? Entahlah.

Padahal, di sisi ketiga itu lah tempat paling luas untuk meledakkan sebuah kepedulian. Padahal, di generasi itu lah tempat di mana paling banyak terdapat bahan peledak kepedulian. Padahal, di tempat itu juga terdapat paling banyak standar lebih tinggi dalam hal ilmu keduniawian, keorganisasian, kepedulian, kemampuan mengolah kebaikan, ataupun keagamaan. Namun apa yang terjadi sekarang, jauh dari harapan selayaknya harapan yang ada di diri akademisi di negeri ini. Yang pada akhirnya, sikap apatis tetap menjadi  sikap paling umum di negeri ini.

~~~

Semoga negeri ini akan bangkit dari bencana yang menimpanya. Semoga pemilik semesta tidak lagi ingin bercanda kepada negeri dengan sikap apatisme warganya. Semoga semesta tetap mampu mengasihi negeri ini tanpa amarah (lagi). Semoga warga di negeri ini tidak lagi hanya mengurusi diri sendiri. Dan semoga semua generasi umumnya dan generasi akademisi khususnya, akan menjadi generasi dengan perasaan peduli berlebih di dalam hati. Semoga. Karena kalau bukan kita sendiri, siapa lagi???

NB :
- Tulisan ini bisa disebut dengan kekecewaan saya kepada mereka (warga Kecamatan Tambak umumnya, dan yang merasa mengenal saya khususnya) yang nyatanya terdidik tetapi tidak seperti manusia terdidik.
- Jika ada yang merasa dirugikan, dicemarkan, atau apapun. Silakan hubungi saya.

Minggu, 12 Juni 2016

Ketika Sebuah Negeri Digeneralisasi Agama Oleh Aparaturnya

Beritahu saya, apa yang kurang hebat dari aparatur negara kita, Indonesia. Dari pembubaran diskusi, pemberedelan buku, penangkapan orang yang punya kreativitas berlebih, dan sekarang, yang paling terbaru, dan hebat (baca : menyedihkan), ketika para pedagang diangkut paksa dagangannya, ditutup paksa lapaknya. Dengan alasan, menghormati mereka yang berpuasa.

Memang, mereka hanya diperintah oleh atasannya. Yang mungkin tidak tahu apa itu kebebasan beragama. Bahwa Iman seseorang, hanya seseorang itu lah yang menentukan. Bahwa Iman seseorang, adalah mutlak menjadi keputusan ia dan Tuhannya.

Kita bukan Tuhan, aparat bukan Tuhan, dan penentu keputusan juga bukan Tuhan, yang mampu mendorong seseorang untuk menuruti keimanan sebuah agama, bahkan menggeneralisir mereka menjadi satu agama, Islam. Bukankah hanya akan menambah persoalan? Menambah buruk citra sebuah agama? Yang padahal Tuhannya saja membebaskan setiap hamba-Nya.

“Ini Indonesia, Pak. Dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika-nya.”

Media dan Teknologi sebagai alat Kapitalisasi

Zaman sekarang, siapa yang tidak tahu tentang Teknologi? Sepertinya hampir tidak ada; dari anak kecil yang celananya kedodoran yang seharusnya bermain layangan di lapangan, remaja sekolahan yang seharusnya belajar dan mengaji, dewasa yang sebaiknya menggunakannya untuk memperluas pengetahuannya, sampai orangtua yang lupa akan kewajiban mendidik anak-anaknya. Ya, hampir semuanya tahu dan mahir dalam menggunakan teknologi (tetapi entah mengenai bijak dalam menggunakannya). Apalagi ditambah dengan banyaknya Media yang menayangkan segala bentuk keindahan dan kemewahan (duniawi) di zaman ini. Banyak sekali. Dan juga Media apapun.

Media dan Teknologi. Dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan (ibarat sinetron ya Boy sama Reva, atau yang lebih dulu ada, Nayla sama Tristan) dalam hal memajukan negeri, atau menghancurkan negeri. Mau bagaimana lagi, kita orang Indonesia. Yang apabila disuguhi sesuatu, akan sangat ragu (bahkan merasa berdosa) untuk menolaknya. Yaaa, meskipun itu adalah pisau bermata dua, Media dan Teknologi itu tadi. Seperti sekarang ini, duet antara keduanya, tengah membuat makjegagik hati saya khususnya, dan saya berharap ada seseorang lainnya yang merasa makjegagik dan tergebrak hatinya. Semoga

Karena tidak bisa dipungkiri, duet antara Media dan Teknologi adalah penyumbang terbesar bobroknya generasi saat ini, di negeri ini. Dari bocah TK yang sudah belajar jadi Boy dan Reva, siswa-siswi bertatap mesra namun menyimpan masalah besar bahwa mereka harus menyadari perbedaan antara Vampir dan Manusia, atau banyaknya orang mendadak kaya dengan mengendarai Ninja hasil ancamannya kepada orangtua atau memaksakan diri untuk dipandang lebih tinggi, dan juga para orangtua yang sibuk bercengkrama sambil menyantap Bubur Ayam ditemani guyonan Rina Hidung dan Irfan Jaksa cs.

Terlihat rumit sekali, bukan? Sayangnya, tidak ada yang bisa disalahkan dari penyebab kerumitan ini, di satu sisi ada Bos Kapitalis Media dan Teknologi yang sedang mencari nafkah membiayai anak istrinya dengan segala kemewahannya dan memperluas usaha untuk menambah pundi-pundi harta sebagai modal menjadi penguasa, di sisi lain ada anak-anak, remaja, dan orangtua yang latah dan terpaksa menikmati Media dan Teknologi yang ada. Hlawong berlangganan TV berbayar kan mahal harganya.

Kalau saya sih, mendingan srawung sama teman lama. Pamer mantan lebih banyakan siapa, atau menangis tersedu-sedu bersama karena belum move on setelah sekian lama.

Bekasi, 12 Juni 2016

Kamis, 02 Juni 2016

Mimpi

Bukan salah mereka; ketika berbicara kepada orang lain dengan penuh rasa bangga (bahkan terdengar dilebih-lebihkan), karena tanpa sadar, harapanlah yang tengah mereka katakan. Dari seorang anak yang diberinya kepercayaan, walaupun ucapannya tidak demikian. Orangtua mana pun, pasti menginginkan anaknya menjadi yang terbaik, setidaknya, di dalam silsilah keluarganya. Dan kita sebagai anak (yang dibangga-banggakannya) seharusnya mewujudkan apa yang dikatakan mereka.

"Kita lah yang seharusnya  mengikuti ucapan (harap) dari bibir mereka, bukan kekecewaan mereka yang harus mengikuti apa adanya diri kita."

Mengubah diri sendiri itu perlu, silakan, siapa pun yang akan kita ikuti, bahkan lalui. Setinggi apapun, sehebat apapun.
Ayo, beradu mimpi denganku, untuk sama-sama mewujudkan 'bangga' Ibu-Bapakku, Ibu-Bapakmu, Ibu-Bapak kita.

Jumat, 20 Mei 2016

Peraturan Percintaan Tahun 2016

Peraturan Percintaan Tahun 2016

Dengan ini; saya selaku pengguna jasa perasaan yang bernama 'Cinta', mengesahkan dengan segenap keyakinan, bahwa; mencintai seseorang adalah hal yang harus kita persiapkan matang-matang.

Adapun peraturan dalam mencintai, adalah sebagai berikut;

Pasal 1 ayat 1

"Jika sudah banyak di antaranya yang kau lalui, dan kau tinggal dan/atau ditinggal pergi. Kau bisa pikirkan ini; bahwa satu di antara milyaran, adalah sebenar-benarnya kepastian."

Pasal 1 ayat 2

"Dan apabila telah ada satu yang kau pastikan, tapi ternyata bukan kebahagiaan yang kau dapatkan. Boleh saja jika kau sekadar memberi pelajaran contohnya, atau meninggalkan parahnya."

Pasal 1 ayat 3

"Meninggalkan mungkin akan lebih menyakiti satu di antara dua pihak. Tetapi, meninggalkan juga bisa menjadi sebuah kebebasan bagi satu pihak. Satu sama, kan?"

Pasal 1 ayat 4

"Bebas di sini, bukan hanya tentang lepas dari perasaan tertekan karena (selalu) disalahkan. Mengikhlaskan atas dasar kesalahan dalam hal memastikan (kembali ke pasal 1 ayat 1) juga bisa disebut dengan kebebasan."

Pasal 1 ayat 5

"Yang mana dari kebebasan itu sendiri, kita akan sama-sama sadar bahwa; hanya karena kita merasa pasti, semesta tak selalu mengizini."

Pasal 1 ayat 6

"Yakin dan berusaha saling meyakinkan bisa saja menjadi sebuah kekuatan dalam hal mempertahankan kepastian. Dalam hal ini, izin bukan menjadi penghalang dalam mencipta cerita berkelanjutan yang kita harapkan."

Pasal 1 ayat 7

"Egois memang, terdengar kekanak-kanakkan pun. Akan tetapi, jika kita mampu melewati semua bentuk halangan, bukankah gelar kedewasaan akan sama-sama kita dapatkan?"

Dengan ini, saya pribadi khususnya, dan para pembaca pada umumnya, dapat memaklumi bahwa dalam hal mencinta, kita tidak diperbolehkan bertindak seenaknya.

Tertanda

Mas-mas korban Friendzone

Sabtu, 14 Mei 2016

Nona (2)

Selamat Pagi, Siang, Sore, ataupun Malam, Nona. Semoga ketenangan hati dan kelembutan rasa senantiasa tertata di hati dan senyum indahmu. Izinkan saya sedikit berbicara tentang Anda, wahai Nona.

Begini, kalian para Wanita;

- Bukan hanya tentang bagaimana berdandan mengotakkan alis, memerahkan bibir dan menghaluskan pipi menjadi Slogan produk sabun mandi "Selembut sutera".
- Bukan hanya tentang bagaimana pahamnya kalian akan seri terbaru dari produk semacam Maybeline, Wardah, SK-II, LOREAL, atau apapun itu.
- Bukan hanya tentang bagaimana berpose semenarik mungkin untuk menarik Mas-mas Ig'ers yang punya banyak dosa, maksud saya harta.
- Bukan hanya tentang bagaimana menjaga bentuk tubuh dan pita suara agar sewaktu kalian nganu bersama Masmu suara yang kalian keluarkan akan terdengar merdu.
- Bukan hanya tentang bagaimana beranda mayamu penuh jempol yang (saat ini) sudah sama sekali berbeda dengan tujuan utamanya, dan kini menjadi tidak berguna itu.
- Dan bukan hanya apapun yang tujuannya sama, dipandang lebih tinggi dari yang lainnya. Padahal kau tak benar-benar siap dan memiliki bekal untuk bertahta di sana.

Lebih dari itu semua, ada banyak hal yang seharusnya kalian bisa sewajarnya wanita (baik) pada umumnya. Semisal pemikiran klasik yang seperti mewajibkan kalian para wanita untuk bisa memasak (memang tidak sepenuhnya pemikiran seperti itu dimutlakkan hanya kepada kalian para wanita), lelaki pun tidak ada salahnya jika mahir dalam memasak apa saja. Tetapi bukankah sebaiknya kalian bisa (walaupun sedikit) sekadar menggoreng telur untuk sarapan suamimu kelak, atau memasak lauk pauk untuk makan suamimu setelah ia pulang mencarikan nafkah untukmu. Dan mencukupi gizi anak-anakmu nanti di setiap makanan yang ia makan.

Juga tentang wawasan, bukankah sudah menjadi kebutuhan bagi setiap manusia (Lelaki, Wanita, Lelaki yang memaksa diri menjadi Wanita, atau Wanita yang memaksa diri menjadi Lelaki) agar kelak ketika kita ditanyai anak-anak kita, kita tidak asal dalam menjawab dan dipercayai oleh anak kita nanti. Maka dari itu, sesepele membaca buku dan memahami isinya, adalah hal yang sebaiknya kalian lakukan. Di sisi lain, kecukupan pengetahuan tentang Agama juga menjadi hal yang penting bagi setiap manusia.

Maka dari itu, belajar banyak hal tak akan menjadikan kalian kehilangan kecantikan, bahkan akan menambah kecantikanmu itu. Selamat belajar, Nona. Semoga dengan belajarmu, akan menaikkan derajatmu, dan memahalkan dirimu. Agar kelak Lelaki yang akan mendampingimu, adalah Lelaki yang memang sepantasnya bersamamu.

Sekian. Terima kasih sudah membaca. Mari belajar bersama.

Tertanda
Mas-mas pemuja wanita dengan segala kecerdasannya.

Jumat, 13 Mei 2016

Bung (1)

Selamat Pagi, Siang, Sore ataupun Malam wahai pembaca yang Bijak. Semoga kesehatan senantiasa beserta kita di mana pun berada. Pada kesempatan yang berharga ini, saya akan berbicara kepada kalian (yang sejenis dengan saya), Lelaki.

Kuberi tahu, Bung. Lelaki itu;

- Bukan hanya tentang bagaimana bisa mengendarai Ninja yang baik dan benar
- Bukan hanya tentang bagaimana terlihat mentereng dengan celana Cargo merk Carhartt dan selevelnya, T-shirt merk Coconut Island dan selevelnya, dan/atau sepatu Converse CT dan selevelnya
- Bukan hanya tentang bangga dan merasa tinggi dengan wearpack berlogo AHM dan selevelnya
- Bukan hanya bagaimana bisa mengoperasikan sosial media apa saja (yang banyak terdapat mbak-mbak kembalian beli Micin) untuk Anda petantang-petenteng di sana
- Bukan hanya apa saja yang mampu membuatmu terpaksa dilihat para wanita
- Dan bukan hanya tentang apapun yang berdasarkan lembaran kertas pembuat dosa

Tetapi Bung, lelaki sesungguhnya adalah mereka yang tanpa memandang berapa umurnya, bersedia membaca sebanyak yang ia bisa, entah itu buku fisik, E-book, kitabgundul (Promosi, ini nama akun Tumblr saya), koran, majalah, papan reklame, geber pecel lele, atau pun chat zaman dulu bersama mantan kekasihmu. MO DA RO.

Begini Bung, segampang-gampangnya kita manusia dalam mencari ilmu adalah membaca. Apa ternyata kita beda? Kau belajar dengan cara meraba mungkin, atau setelah kau bangun tidur, kau mengetahui semua ilmu yang ada.

Jika seperti itu adanya, Suhu, jadikan saya muridmu.

Karena apa Bung? Karena kita lelaki, manusia pemimpin bagi wanita-wanita kita, menjadi penentu apa yang akan kita jalani bersama wanita kita, dan yang paling penting Bung, kita adalah guru pertama dan terbaik bagi keturunan kita nantinya. Saya rasa blabberan saya di atas sudah cukup, sampai mulut saya berbusa, karena itu juga saya pamit undur diri dari hadapan Anda, Bung (sejujurnya saya takut digebukin dan diarak keliling desa karena celotehan saya).

Selamat membaca Bung, jika pun dalam berpikir kau belum sampai pada tahap itu, bukan urusanku. Karena aku merasa ditugasi terhadap diri sendiri dan kalian tadi, untuk mengingatkan betapa pentingnya kita untuk mereka yang ada di sekitar kita. Sekian. Terima kasih.

Tertanda

Mas-mas yang belum juga muf on dari wanita yang tak sempat dimilikinya.

Rabu, 04 Mei 2016

(Masih) Tentang Zaman Ini

Sebenernya sih pengen, ikut-ikutan adek zaman sekarang. Tapi ya gimana, malu sama kumis. 😯 mwehehehe. Kelihatannya sih emang keren, kekinian, update-able, ada hal yang baru langsung ikutan. DENGAN TANPA MEMIKIRKAN APA YANG SEBENARNYA DILAKUKAN. Ngggg maaf CAPSLOCK tadi tiba-tiba jebol.

Jadi begini, Teman-teman, Mbak dan Mas, Bro dan Bray, Bung dan Nona, Tuan dan Nyonya, manusia hidup (bersosial) itu ada batasan-batasannya, batasan apa? Batas menjaga diri kita sendiri, dari apa? Dari persepsi orang lain yang mungkin memang tak perlu kita pikiri, tapi, tapi apa? Tapi, sebagian dari kebanyakan, pasti akan sekadar memikirkan atau parahnya akan mempermasalahkan. Masalah apa? Hidup-hidup saya kok. Ya memang, hidup anda, saya juga ndak memikirkannya (sama sekali). Lantas apa? Ya coba anda pikir saja sendiri, nih ya;

Ketika Anda sekalian mengikuti, atau terpaksa mengikuti karena tak ingin dicap sebagai seseorang yang ketinggalan zaman ini.

Simpel saja, sesimpel Anda update status di entah sosial media apa (semau-mau Anda), hal yang sedang booming, yang terbaru dari yang baru, yang terlihat lebih keren dari yang sebenarnya keren, dan hal-hal lainnya yang sebenarnya kurang berguna. Sudah saya terangkan di atas bahwa; di sini saya akan membahas pergaulan dan kelakuan adek-adek zaman sekarang dalam bersosial media khususnya. Mereka terlihat seperti anak Ayam yang dengan tanpa sadar mengikuti seekor Bebek sebagai Induknya. Mereka seperti seseorang yang menumpang kendaraan tanpa tahu ke mana tujuannya. Asalkan mereka suka, persetan dengan lainnya, mungkin seperti itu pemikiran mereka. Mungkin

Apa penyebabnya? Begini;

Pertama, tanpa mengatasnamakan Agama A atau B, kita semua jelas sudah tahu jika Bumi kita sudah tua, dalam artian, inilah akhir zaman.

Kedua, media saat ini hanya memikirkan bagaimana mereka mendapatkan banyak uang, menjadi yang paling banyak dibicarakan khalayak luar, dan segala keegoisannya. Kenapa saya mengatakan egois, dengan tanpa dasar pun semua orang awam seperti saya sangat tahu, mana yang dinamakan sebuah tontonan yang menjadi tuntunan, dan mana sebuah tontonan yang menjadi komplotan*1 (baca : semua yang berdasar komplotan, adalah hal yang buruk). Dengan hanya ada satu dua tuntunan, berbanding puluhan komplotan dalam satu media yang sama, bukankah itu egois?

Ketiga, kurangnya pemahaman berdasarkan akal sehat. Maksudnya, mereka yang melihat sesuatu yang terlihat bagus, dengan tanpa mengerti untuk apa, mereka langsung saja menirunya. Contoh: akhir-akhir ini saya sering sekali melihat di sosial media (Facebook khususnya) adek-adek kita yang lucu dan imut berdandan tidak sebagaimana umumnya, bergaya tidak sebagaimana patutnya, dan bertingkah tidak sebagaimana seharusnya. Begini, ya masa adek (masih) berseragam Putih Biru dan pertengahan Putih Abu-abu mukanya terlihat seperti Tante Sosialita dan Ibu-ibu PKK, memang tidak semua. Lagi, yakali adek yang masih seimut itu berfoto dengan pose yang mengundang syahwat om-om seperti saya, jadi kalau (maaf) pelecehan seksual terjadi padanya, bukan sepenuhnya salah tersangka, la wong adeknya juga penasaran (baca : kepengen) dan membuka lowongan kok. Ada lagi, waini lagi adek-adek yang lucu dan imut terkadang membuat pusing pala dedy, seperti berpose mesra dengan terong-terong bantat*2 (tidak menua, tidak bisa dinikmati sebagaimana mestinya) yang katanya kesayangannya -oom aja takut dek mau pose kayagitu, la wong gak ada pasangannya- -__-

Di atas adalah sebagian kecil seperti apa bobroknya pergaulan adek-adek kita khususnya. Bukan berarti saya dan kita yang sudah dewasa tidak melakukannya, banyak juga dari kita yang seperti itu tingkahnya. Jadi, sebelum hal buruk terjadi, minimal kepada diri kita sendiri, beri batasan tentang apa yang kita tampilkan di khalayak orang banyak. Karena cerminan diri kita, tanpa kita sadar orang lain membaca dari hal itu semua (sosial media).

Bukan maksud saya mengatur atau menggurui, karena sudah jelas di blog ini, saya menulis keresahan saya pribadi. Dengan atau tanpa menjelek-jelekkan, kita semua pasti sama-sama mempunyai harapan, generasi yang akan datang adalah generasi pengganti yang patut dibanggakan.

Epilog

Bersenang-senang (walaupun) di atas dinding maya kita sendiri, sebaiknya dipilah lagi dan berhati-hati. Karena sekecil kita mengeluh di sana, ada seseorang yang tengah tertawa dengan terpaksa mengakui, bahwa di zaman ini; murahan bukan hanya benda mati.

NB : 1. kom·plot·an n 1 persekutuan secara rahasia yg bermaksud melakukan kejahatan; gerombolan penjahat; 2 teman melakukan kejahatan; kaki tangan, 2. ban·tat a belum masak benar dan keras (tt roti dsb). Sumber : KBBI

Terima kasih sudah membaca, mari kita peringati dan jaga diri kita sendiri.

Minggu, 01 Mei 2016

Sop(sop)an

Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda entah antara; tempat, keluarga, ataupun watak kepribadiannya. Menurut pandangan saya pribadi, perbedaan tercipta untuk menjadikan kita sebagai manusia yang senantiasa belajar dari manusia lainya.
Salah satunya adalah sopan santun. Hal inilah yang akan saya bahas, karena kebetulan saya sendiri tengah merasakan dampak dari ketimpangan sopan santun yang tersebar; entah itu kurang merata, tidak terjangkaunya suatu tempat, atau memang tertutupnya diri si penerima. Entahlah, saya tidak tahu.
Menurut saya, sopan santun adalah hal wajib dimiliki setiap manusia sebagai bekal hidup bersosial, dalam lingkungan apapun; entah itu pendidikan, pekerjaan, ataupun lingkungan kita tinggal. Karena kurangnya sopan santun akan banyak dampaknya bagi hidup kita, dan itu bukan dampak positif. Serem kan?
Contohnya begini; Sebagai seorang perantau yang tinggal dan mencari penghasilan di daerah lain, kita harus sangat cukup mempunyai bekal sopan santun. Karena sebagai perantau, kita bukan hanya numpang mencari remah-remah rezeki, tapi juga menjadi bagian baru dari lingkungan itu, dan kewajiban kita adalah menyesuaikannya. Saat ini, ada seorang teman baru saya, dia masuk kerja beberapa hari yang lalu. Dan sebagai seorang yang Perfeksionis, saya sangat faham sebab kenapa ia kurang dalam bersopan santun;
Pertama, ini memang pekerjaan pertamanya, sebelumnya belum pernah bekerja apalagi merantau, jadi wajar saja jika sekali ia datang tidak mengetahui kesalahan kecil yang akan mengganggu orang lan, seperti; sekadar menyapu rumah kontrakan, membersihkan kamar mandi, dan hal-hal lainya yang seharusnya dilakukan secara bergantian.
Kedua, mungkin dari lingkungan tempatnya berasal, sopan santun tidak menjadi hal penting. Bisa dikarenakan setiap orang di lingkungan asalnya hanya mementingkan dirinya sendiri, persetan dengan orang lain, yang penting gua aman, bahagia, seperti itu mungkin. Anjir!!!
Ketiga, bisa jadi karena memang dirinya sendiri yang kurang terbuka dengan kehidupan luar, menjadi orang rumahan itu tak selamanya baik. Ketika ia keluar dari zona kehidupannya, bisa saja ia kikuk dan kebingungan apa yang sebaiknya ia lakukan, yang akhirnya malah menjadi sebuah kesalahan. Misalnya, karena selama ini ia hanya hidup di lingkungan rumahnya yang notabene sudah sangat akrab, sesepele hal meminjam sendal tanpa meminta izin mungkin tak menjadi masalah, nah karena sudah menjadi kebiasaan, di lingkungan baru pun ia melakukan hal yang sama, dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi suatu masalah. Bahaya men!
Itu hanya sedikit contoh, hal kecil (kurang sopan santun) yang bisa saja menjadi kesalah pahaman, atau bahkan kematian. Jangan salah.
Dan sekarang saya akan membahas teman baru saya, atau lebih tepatnya keresahan saya pribadi, seperti ini;
Ya masa, ada bantal meskipun ketika ia datang si pemilik bantal itu tidak ada. Lalu ia pakai bantal itu, ketika si pemilik bantal datang, dengan tampang seperti orang nggak punya dosa ia tetap memakai bantal itu. Jadi begini, ada batas di mana benda A milik si A dan benda B milik si B, jika memang si A punya rasa sopan santun yang tinggi, untuk memakai benda milik si B ia akan meminta izin terlebih dahulu. Tidak main nyelonong aja kaya kang Bajaj. Tetapi saya maklumi karena memang ini kali pertama ia menjadi seorang yang keluar dari zona nyamannya.
Epilog
Sopan santun menurut saya pribadi adalah hal yang SANGAT penting. Saya sudah mengalaminya sendiri, sesepele lewat depan sekelompok pemuda tanpa permisi, nyawa saya hampir melayang. Sebagai contoh mungkin sudah cukup, bahwa sopan santun sekecil permisi adalah hal yang sangat penting.
Sekian, mari menjaga sopan santun, biar Indonesia banget. Dan tentunya meminimalisir kita mendapat masalah. Terima kasih sudah membaca.

Sabtu, 30 April 2016

Yang Katanya Zona Nyaman

Ada yang bilang kurang lebih bunyinya seperti ini "Keluarlah dari zona ke-tidak-nyaman-an-mu, dan beranjaklah dari zona nyamanmu" -ini orang maunya apa sih ngomong dibolak-balik, diputar-puter gajelas- oke, terserah siapapun yang mengatakan itu, saya punya pandangan sendiri mengenai hal ini.

Logikanya begini, sebuah Bintang yang jatuh ke dalam kubangan (entah itu lumpur, limbah industri, limbah rumah tangga, atau limbah manusia), bukankah tetap saja namanya Bintang. Beklah kalo Bintang kesannya terlalu tinggi, ambisius.

Begini saja, misal kau punya satu koin logam, sebut saja pecahan Rp.1000, terserah akan kau apakan koin itu; diceburin empang kek, digilesin kereta kek, dilemparin ke jidat mantan kek, dipakein buat nusuk-nusuk tai ayam kek, diselipin di sela-sela kuping kek, semau-mau jidat lau pokoknya dah. Bukankah namanya tetap koin logam, dan bukankah tetap menjadi pecahan Rp.1000?

Sudah, itu saja. Kalian pasti tahu lah maksud saya. Terima kasih sudah membaca.

Jumat, 29 April 2016

KEREN (air)

Setelah bertapa selama 40 hari 40 malam (nggak deng, boong), saya menarik benang merah yang tidak terlalu merah tapi tetap bisa dibilang merah; ternyata di zaman ini, semua hal mempunyai dasar yang sama, yaitu KEREN. -.- *yo opo iki*

Mau makan, di tempat KEREN
Mau minum, di tempat KEREN
Mau sekolah, di tempat KEREN
Mau belanja, di tempat KEREN
Mau eek, di tempat KEREN
Mau beribadah, biar KEREN
Mau nakal, biar KEREN
Dan masih banyak sesuatu yang berembel-embel KEREN di belakangnya, dan saya malas sekali untuk menyebutkannya.

Selasa, 26 April 2016

Bukan Benar, Tapi Baik

Entah kenapa saya selalu suka melihat mereka melakukan sesuatu yang berhubungan dengan 'mimpi'. Karena saya juga seorang pemimpi pastinya. Pemimpi gila sih lebih tepatnya.
Mereka menjadikan saya lebih greget untuk beradu mimpi, sepertinya menyenangkan; berkompetisi melawan diri sendiri, ketika kita memenangkannya, banyak orang yang akan ikut merasakannya. Sesepele status Facebook, seperti; "Ya Allah, semoga dari apa yang kudapat sekarang, adalah apa yang kau tambahkan di hari yang akan datang" (kata saya) atau "Kepengen deh, jadi anak yang bisa ngebanggain ortu, mulai sekarang berarti harus lebih dalam masuk jurang dan lebih tinggi menerbangkan mimpi" (kata saya juga). Dikarenakan jarang sekali saya melihat status yang sama atau dengan maksud demikian Wah, parah!!!
Menurut saya, kalimat seperti itu terlihat indah sekali. Tampak ada kesungguhan di dalamnya.
"Ya iyalah, kan elu yang nulis sendiri, nengndi ae bebek yo silem"
"-______-"
Oke lanjut~
Masih banyak sebenarnya yang membuat saya merasa greget ketika membacanya, seperti; "Ya Allah, kuatkan hambamu ini. Meskipun selalu disakiti", "Aku lelah Tuhan, kenapa harus selalu seperti ini", "Semua cowok memang sama, nggak punya perasaan", atau "Indomie dulu, bareng kesayangan". -___-
Sumpah status-status seperti itu sangat membuat greget perasaan saya. Rasa-rasanya ingin saya temui siapa orangnya lalu saya berikan semua yang saya punya (dalam wujud kotoran manusia) Bhahahaha. Nggak-nggak.
Jadi begini, memang di era (ceileh bahasanya) seperti ini, dengan bertambah mudahnya kita mengakses teknologi yang di dalamnya berisi berbagai macam kemudahan (kemudahan dalam belajar-mengajar, kemudahan dalam berkomunikasi, kemudahan dalam bermalas-malasan, dan lain sebagainya yang jika ditulis hasilnya akan sama dengan buku KBBI) -___-. Yang nantinya akan ada dampak baik itu positif ataupun negatif dari itu semua, contoh :
- Teknologi saat ini sangat memudahkan kita untuk mengakses informasi-informasi yang (mungkin) belum pernah kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Seperti bagaimana cara stalking mantan yang baik dan benar, bagaimana cara ngehack facebook mantan supaya nggak ketahuan, juga bagaimana cebok yang baik dan benar. -___-
- Di sisi lain, teknologi yang semakin hari semakin canggih, semakin mudah kita akses walaupun hanya berbekal "handphone android merk china". Akan semakin membuat kita malas-malasan untuk memahami makna hidup bersosial, yang ada hanya bagaimana kita puas dan merasa hebat dengan diri kita sendiri. Pun dalam hal di saat kita berada dalam posisi yang tidak semestinya kita rasakan, seperti putus dengan pacar, ditikung sahabat sendiri, diselingkuhin sampe berpuluh-puluh kali, dsb.
Dan dari itu semua, kita akan lebih memilih mencurahkan semua apa yang kita rasakan kepada teknologi, dalam hal ini sosial medialah tempatnya. Karena itu, semakin hari semakin banyak pula bermunculan bibit-bibit unggul cabe rawit, terong-terong super, ataupun terong dicabein sisa kemaren alias Basi. Contohnya ya seperti yang saya sebutkan di atas.
Lalu bagaimana cara mengatasinya?
Caranya mudah, cukup sms dengan format (Ketik REG (spasi) TJURKHAT (spasi) CURHATAN ANDA lalu kirim ke nomor Ibu atau Bapak anda) mudah bukan?.
~Bukan, bukan itu, aku rasa kita pun tahu, petaka terjadi, karena salah kita sendiri.~
Seperti lagu tadi, kesalahannya ada dalam diri kita sendiri, untuk membenarkannya mudah saja kok, seperti; bijak dalam membual (paling tidak pikirkanlah dulu sebelum kita mengklik 'kirim' atau 'enter' kira-kira akan mebuat risih orang lain, dan menyinggung orang lain atau tidak) memang pasti akan ada yang menyangkal dengan berkata 'biarin aja kenapa sih, facebook-facebook gue, hp-hp gue, berisik lau' seperti itu. Dan bukan hal yang salah, hanya saja anda sangat terlihat sebagai bibit unggul dan penerus generasi michin. Saya turut prihatin -.-
Okelah kalau memang anda nyaman bersosial media dengan style anda yang seperti itu. Tapi, (pasti) akan ada seseorang yang menilai anda dari apa yang ia lihat pada beranda sosial media anda, dan (pasti) akan ada salah satu di antara mereka yang merasa risih bahkan jijik dengan apa yang mereka lihat di beranda sosial media anda. Dan kalau seseorang itu adalah salah satu orang yang penting bagi hidup anda, yasudah. Matilah saja kau.
~Epilog~
Dalam kehidupan manusia, selalu ada hal yang sebaiknya ditampilkan kepada publik dan sebaiknya tidak ditampilkan kepada publik. Dalam hal ini, kreatifitaslah yang seharusnya kita tampilkan dengan wujud tulisan, foto, ataupun video. Agar publik mengenal kita, pada keadaan sebaik-baiknya kita.
Terima kasih sudah membaca, jika ada yang ingin disampaikan atau ditanyakan, silakan, sudah tersedia kolom komentar. Sekian ~~~

Rabu, 20 April 2016

Ilmu

Jadi ceritanya, akhir-akhir ini saya 'random' sekali. Mencoba banyak hal yang saya sukai, seperti menulis (entah itu sekadar quote-quote recehan, puisi yang nggak bisa dikatakan puisi sama sekali, atau baru-baru ini sedang senang sekali menulis artikel) karena itu saya juga bergabung dengan sebuah komunitas menulis, menggambar (hand lettering dan doodling juga) dan bermain gitar (ya walaupun belum hafal kunci dasar). Tetapi saya suka, karena memang saya adalah typical orang yang ingin tahu (segalanya), ya walaupun mungkin hanya sebatas dasar pun belum bisa.

Ada satu quote yang 'makjleb' ke lubang pikiran dan liang hati saya, entah siapa yang menulisnya, quotenya kurang lebih seperti ini "Kamu punya seratus, aku punya seratus. Kita tukar, masing-masing kita akan tetap punya seratus. Kamu punya satu ilmu, aku punya satu ilmu. Kita tukar, masing-masing kita akan punya dua ilmu." indah sekali bukan.

Makannya (pake sendok) ayo sama sama kita cari sebanyak-banyaknya ilmu, lalu kita sama-sama bertukar ilmu, agar semakin banyak ilmu yang kita punya.

Udah itu aja sih ~~~

D3 (Diam Dulu Dong)

Ya kan kalian nggak tahu apa maksud dari perbuatan mereka, jadi ya coba diam di tempat dan cukup melihat.

Ya kan kalian nggak tahu mereka seperti itu untuk atau karena siapa, jadi ya biarkan saja mereka berbuat semaunya.

Ya kan kalian nggak tahu mereka seperti itu karena apa, jadi ya tidak usah menyimpulkan yang tidak-tidak tentang mereka.

Jadi, melihat dan mendengar belum cukup untuk dikatakan sebagai cara belajar. Perlu sebuah pemahaman yang mendasar untuk menyimpulkan apakah kita benar-benar mengerti, atau sekadar membual karena tak tertahan lagi. Sekian ~~~

Bukan Soal Jumlah

Ceritanya saya lagi 'gabut' banget. Belum ngantuk sama sekali, mau ngrokok sayang (tinggal dikit, besok ngisep apa dong), mau bikin kopi nanti malahan 'eneg' (biasalaaah, anak perantauan, perutnya jarang isi).

Jadi iseng-iseng saya menghitung jumlah teman yang saya miliki. Alih-alih jelas jumlahnya berapa, malah saya pusing sendiri. Padahal kalo emang mau ngitung jumlah sih mudah saja (bagimu, mudah saja untukmu), entah itu puluhan, ratusan, atau ribuan. Tetapi bukan kejelasan itu yang saya dapatkan, melainkan saya malah menjadi terpikir arti seorang teman.

Nah, inilah yang ada di pikiran saya tentang seorang teman. Teman adalah, suatu makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang entah bagaimana caranya mereka hadir dan melengkapi hidup kita. Hampir setiap teman satu dan yang lainya, berbeda cara ia hadir ke dalam hidup kita, entah itu; tidak sengaja satu kelompok ketika kita MOS, satu hobby yang dipertemukan ketika sekolah, duduk bersebelahan ketika naik angkot, menaksir cewek yang sama, tidak sengaja tertukar sendal ketika sholat Jum'at, ataupun tidak sengaja dan kaget ketika bertemu di bawah pohon pisang yang sama dengan maksud yang sama pula, (mencurinya) -sumpah yang terakhir itu saya belum pernah-, ya begitulah, ada keunikan tersendiri dari setiap pertemuan yang akhirnya menjadi sebuah pertemanan.

Nah, sekarang mari kita masuk lebih dalam tentang pertemanan.

Dalam setiap hubungan pertemanan, pastinya akan selalu ada yang namanya perbedaan. Entah itu pendapat, hobby, kelas sosial, kecerdasan, agama, pekerjaan, sekolah, dan lain-lain. Dan dari perbedaan itu, kita akan dapat membaginya lagi menjadi dua kemungkinan;

1. Menjadi lebih eratnya tali pertemanan yang akan menaikkan levelnya menjadi persahabatan. Dalam hal ini, mereka menjadikan perbedaan sebagai keasyikan tersendiri dalam rangka mencaci maki. Kenapa caci maki? Karena candaan-candaan yang didapat dari perbedaan itu, menjadikan mereka lupa akan perbedaan itu sendiri. Yang ada hanyalah mereka sama-sama bahagia, tertawa, dan merasakan 'bapuknya' dicaci maki.

2. Menjadi jurang pemisah dari kehidupan bersosial manusia, artinya; mereka menganggap bahwa perbedaan adalah hal yang memang berguna sebagai pembeda. Antara si pemilik hobby A dan hobby B, antara si anaknya Pejabat atau anaknya Rakyat, antara anaknya Konglomerat atau anaknya Buruh sikat. Di keadaan ini, mereka menganggap bahwa berteman dengan seseorang yang berbeda harta, kasta dan  rupa tidak patut untuk dijadikan sebuah teman. Buruk memang, tetapi kenyataan.

Bahasannya mulai dalam neeh, hazeeeek. Nah sekarang saya akan menyinggung masalah di dalam kehidupan yang melibatkan pertemanan. Begini, nanti saya sambung lagi, karena ini juga sudah terlalu panjang. Nanti malahan nggak ada yang mau membaca sama sekali, kan syediiiiii :'(((

Selasa, 19 April 2016

Cinta(i)

Cinta, kalian semua pasti sudah tahu apa itu. Kalo kata orang yang pernah saya temui, cinta adalah suatu perbuatan di luar kendali setiap jiwa yang memilikinya, karena apa?

"Apa??"

"Tau nggak???"

"Nggak tahu?"

"Yadah saya kasih tahu mau?"

"Tahu aja apa tahu gejrot?"

Oke, karena dengan cinta, semua manusia akan bisa menjadi sebaik-baiknya manusia, atau menjadi seburuk-buruknya manusia.

Contoh : salah satu teman saya mengatakan kalau saat ini ia sedang mengincar, atau mendambakan sih lebih tepatnya. Seorang gadis manis perawakan tipis dengan rambut yang dikuncir manis tapi bukan artis, dia (teman saya) mengaku kalau akhir-akhir ini menjadi rajin untuk BAB, eh bukan. Dia mengaku menjadi lebih rajin dari biasanya, entah itu bekerja, mandi, beribadah, membersihkan kamar, membersihkan halaman (halaman kantor walikota), atau yang lebih menghebohkan, ia menjadi lebih rajin membeli sabun batangan. Entah untuk apa saya juga kurang tahu, saya masih kecil, belum banyak tahu. -__-

Padahal ia mengaku bahwa sebelum ia mengenal wanita idamannya, ia sangat malas meskipun hanya untuk sekadar bernapas (gile ni orang, napas aja males). Jadi terlihat dengan jelas bukan, kalau cinta bisa membuat manusia berubah jauh berbeda dari sebelumnya.

Contoh lain : (Masih) salah satu teman saya lagi, ia mengatakan bahwa akhir-akhir ini dia menjadi malas sekali untuk mandi, beribadah dan hal-hal positif lainnya, karena apa. Karena e karena, si cewek yang ditaksirnya adalah salah satu kelompok fanatisme suatu genk, genk apa? Genk motor. Motor apa? Rahasia.

Itu lho, genk yang kelihatannya hidupnya enak semua, happy semua. Yang kerjaannya jalan-jalan entah kemana, tentu semau-mau mereka. Yang mereka mengaku menjunjung tinggi sebuah pertemanan lebih dari segalanya. Yang mereka lebih mementingkan keinginan pribadi daripada memikirkan keluarganya, tentu saja terlepas dari kemungkinan bahwa dalam kekeluargaan mereka menjadi korban broken home mungkin, korban kemiskinan mungkin, atau mungkin juga korban dari pil-pil dan minuman-minuman yang kata mereka enak sekali.

Bukan menjelek-jelekan ataupun merendahkan, setiap manusia memang bebas dan wajib dibebaskan untuk memilih apa yang menjadi keinginannya. Di sini, saya tidak akan menambah embel-embel suatu agama atau kepercayaan A atau B. Karena di setiap Agama, beribadah adalah wajib hukumnya. Saya juga tidak akan mengatakan bahwa mereka jarang beribadah, karena kembali ke kalimat pertama di paragraf ini.

Saya rasa, kok bahasannya jadi ke mana-mana ya. Apa karena saya telah digendong sama Mbah Surip. Ah, wateferlah.

Kembali ke cinta. Nah, dari dua contoh di atas, terlihat jelas bukan kalau cinta adalah perbuatan di luar kendali pemiliknya. Yang menjadikan si pemilik bisa berubah atau terpaksa mengubah dirinya.

Epilog

Cinta memang sesuatu yang sangat erat kaitannya dengan makhluk hidup yang bernama manusia. Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan? Hal sepele tapi sangat sulit untuk dilakukan, adalah ikhlas. Kenapa ikhlas? Karena dengan ikhlas, kita akan senantiasa menjadi diri sendiri. Entah itu ikhlas dalam hal menerima, atau ikhlas dalam hal gagal mendapatkannya. Sudah jelas bukan? Kalau belum, silakan tanyakan kepada diri anda sendiri, karena saya juga masih mencari jawaban itu. Sekian ~~~

Senin, 18 April 2016

Jijik

Sedang dalam keadaan; memikirkan mereka para manusia-manusia super Imbisil. Tergambar jelas pada zaman ini, zaman di mana mereka berpikir dangkal kepada dirinya sendiri, atau lebih tepatnya mengagumi. Contoh : "Menulis status Facebook hanya dengan kalimat Open BL 5 orang tercepat, atau Yang jomlo komen yaa" dan tetek bengek lainya. Rasanya ingin langsung saja, tanpa ba bi bu saya bernyanyi tepat di sebelah kuping mereka "Kamu siapa? Kamu sperti Jelly. Menjijikan sekaliiiii" dengan nada sebuah iklan di TV, iklan produk jelly atau bahasa kerennya agar-agar (berarti sama dengan supaya-supaya dong) ah nggak penting. Kembali ke batok, eh laptop. Eh, belum punya deng. Yadah langsung lanjut aja.

Mungkin bagi mereka memang sebuah kebanggan tersendiri menjadi idaman para kaum lawan jenis, bebas sih, saya juga gak mikirin. Tetapi, apa mereka tidak berpikir seperti apa penilaian orang di luar, entah itu risih, jijik, ilfill, gila, geli, ngilu, gatel, kebelet, atau apapun itu yang menggambarkan rasa tidak suka. Tapi, mungkin juga niat mereka baik, memberi "boom like" sekuat jempol mereka, hanya dengan me-ngelike status mereka tadi. Hanya saja caranya yang terlihat sok-sokan ngartis, nyeleb. "Neeeh gue seleb Facebook neeeeh" gitu mungkin ya? Bhahaha. Michin sekali.

Memang tidak selamanya mendengar kata orang adalah sesuatu yang benar. Tetapi kalau kata orang lain adalah sebenar-benarnya wujud dari kesalahan kita, bukankah mendengar mereka adalah bentuk dari sifat dewasa? Dan bukankah kedewasaan adalah salah satu sifat dan sikap yang mengagumkan.
Sudahlah, kita kembalikan saja kepada sifat dasar manusia yaitu Riya'. Saya sibuk, mau menangkap nyamuk-nyamuk biadab yang sedari tadi menusuk-nusuk seluruh bagian tubuh saya yang seksiyeh. Lho kok jadi Imbisil. Hallah gak penting.

Tulisan ini saya buat tanpa maksud untuk merendahkan atau apapun itu. Tetapi tulisan saya buat untuk menyatakan kejijikan saya kepada mereka.

"Sama aja dong?"

"Ya biarin, tulisan-tulisan saya ini, hp-hp saya ini. Cerewet ah!"

Sekian, salam dari saya. Makhluk Tuhan paling seksiyeh kedua setelah istrinya Ahmad Dhani.

"Imbisil lagi."

"Biarin ah!!! FAKKK!!!"

Hari yang berulang

Setiap satu dari jumlah yang bertambah, adalah satu yang berkurang dari waktu. Ya, Ulang tahun. Setiap manusia yang hidup pasti akan mengalaminya, entah akan sampai pada hitungan yang ke-berapa. Dan hari ini, adalah hari di mana seorang gadis tengah merayakan pengulangan hari lahirnya. Afrida Maula Azizah Annur, namanya.

Nak, di umurmu yang kesekian ini, semoga semua dasar bentuk dari semogamu, dapat terbentuk sesuai apa kemauanmu.
Nak, di hari lahirmu sekarang ini, semoga semua apa yang kau lakukan sekarang dan/atau yang akan datang, adalah bentuk dari kedewasaan seorang wanita.
Nak, di waktu yang berkurang satu di antara entah berapa, semoga apa yang kau harapkan dapat menjadi sesuatu yang disebut dengan bangga karena mendapatkan.
Nak, di hari ini, hari lahirmu. Semoga semua doa-doa yang kau lantunkan, semua harap yang kau gantungkan, semua mimpi yang kau terbangkan, akan menghampirimu satu per satu di kemudian hari yang kau inginkan.

Dariku, kakak ternakalmu.

NB : Tulisan ini ditulis dalam keadaan yang sangat genting (bayangin aja; kebelet boker di saat baru masuk Tol, macet pula) ditambah dengan melawan rasa kantuk dan panasnya jalanan Ibukota.