Setelah melakukan riset yang lama dan seksama. Tentang kopasan quote pasaran "Melangkah ke depan", atau "Menatap masa depan" mungkin maksudnya move on, dan/atau menggapai mimpi, atau hal-hal lain yang berdasar sama, "Perubahan". Atau mungkin tanpa maksud yang konkrit (baca : cuma ikut-ikutan kopas biar kekinian), kok lucu. Hahahaha
Nah bicara mengenai perubahan (baik), setiap orang pasti menginginkannya, entah itu; diri sendiri, keluarga, sampai sebuah negara. Betul? *iyain aja Plisss*. Dikarenakan saya adalah salah satu rakyat jelata yang peduli akan perubahan negeri ini, maka yang akan saya bahas di sini ya perubahan bangsa ini. Monggo diwaos (silakan dibaca).
Perubahan, dari yang buruk menjadi yang baik, dari yang baik menjadi lebih baik. Bicara perubahan suatu bangsa (maksud saya, generasi yang ada di dalamnya), sepertinya setiap orang akan sama; menuduh sistem pemerintahan yang tidak transparan, atau menuduh pemimpin negara yang tidak mendengarkan keinginan rakyatnya. HEEEEEYYY!!!! Bangun!!! Kerja!!! Hahahaha. *eh, itu sih lagunya Almarhum Mbah Surip ya. Ehe ehehehe*
Kalau kita hanya menyalahkan sistem pemerintahan dan pemimpin, mau sampai zaman Nenek Tapasha tobat, sampe Tukang Bubur Pulang dari Naik Haji juga nggak bakalan jadi. Perubahan ya dimulai dari hal-hal yang paling kecil, nah dalam suatu bangsa, hal-hal kecil itu ya kita ini, penduduk yang tinggal di negeri ini. Kalau bukan dari kita siapa lagi? Mantan?? Hassshh, ngawur!
Mari kita mulai;
Pertama, tentang generasi harapan negeri ini yang semakin hari kegilaannya semakin menjadi-jadi. Kita lihat di media sosial, saya akan mengambil contoh Fa*eb*ok. Karena memang di media sosial inilah kegilaan dan kebobrokan sebuah generasi terpampang dengan jelas di setiap postingannya. Open Boomlike, Chat Aku Dong, Promote Teman, Pamer Belahan Dada (ini yang saya tunggu), dan masih banyak lagi sampah yang dihasilkan generasi penerus bangsa di sana. Atau yang lagi hangat-hangatnya dibicarakan, si mbak cantik yang sekarang dijuluki "Drama Queen" di sosial media, siapa lagi kalau bukan Awkarin.
Nah, bagaimana cara mengubahnya?
Jawabannya ada di diri kita masing-masing. Saya beri contoh; simple saja, tidak perlu mencari perhatian hanya untuk mendapatkan 'Like' yang tidak lagi berguna. Like tidak akan menambah kapasitas pengetahuan Anda. Di saat orang lain sibuk memikirkan bagaimana jika Awkarin baru bermunculan, kalian masih sibuk cari perhatian dengan status "Pokemon aja dicariin, masa aku enggak". Hasshhh!!! Ra masuk.
Kedua; dari pergaulan mereka (adek-adek saya yang masih berseragam putih biru atau putih abu-abu) yang semakin hari semakin saya sayangkan. Seperti pacaran yang sangat belum waktunya, okelah kalo cuma jalan-jalan cari pengalaman. La kalo cari pengalamannya bukan jalan-jalan, tapi Anjal-anjalan? Mau ditaruh di mana masa depanmu, Nduuuuuk??? Juga gaya hidup yang kekinian tai-taian, distro-is, urbex-is, hash mbuh apa lagi, yang memerlukan banyak biaya hanya untuk dipandang keren dan idola. Idola NDHIASMU!!! Dan masih banyak lagi hal yang sebenernya kurang atau bahkan tidak bermanfaat.
"Biar pengalaman dan nggak ketinggalan zaman, Boss"
Pengalaman ndhiasmu? Pengalaman, memang perlu datang dari sesuatu yang tergambar dari sebuah perkataan ini "Kalau masih ngambek dibercandain, berarti mainmu kurang jauh, tidurmu kurang malem", tapi bukan berarti kowe-kowe pada keluyuran nggak jelas sambil cekikikan kaya orang mabok Pep*odent.
Mainlah ke banyak toko buku, jadi main jauhmu terlaksana. Dan baca banyak buku, jadi tidur malammu terlaksana. Beres kan?
"Masa hidup sesepaneng itu, Boss?"
Ya enggak juga kali, saya juga nggak kuat kalo terus-terusan kaya gitu. Seenggaknya hindari main cuma buat dateng ke tempat yang Instagram-able, dan ngabisin banyak duit buat beli baju distro yang katanya keren dan anggur yang katanya enak.
Jadi, sudah jelas bukan? Siapa yang seharusnya berperan dalam suatu perubahan?
Sekian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar