Zaman sekarang, siapa yang tidak tahu tentang Teknologi? Sepertinya hampir tidak ada; dari anak kecil yang celananya kedodoran yang seharusnya bermain layangan di lapangan, remaja sekolahan yang seharusnya belajar dan mengaji, dewasa yang sebaiknya menggunakannya untuk memperluas pengetahuannya, sampai orangtua yang lupa akan kewajiban mendidik anak-anaknya. Ya, hampir semuanya tahu dan mahir dalam menggunakan teknologi (tetapi entah mengenai bijak dalam menggunakannya). Apalagi ditambah dengan banyaknya Media yang menayangkan segala bentuk keindahan dan kemewahan (duniawi) di zaman ini. Banyak sekali. Dan juga Media apapun.
Media dan Teknologi. Dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan (ibarat sinetron ya Boy sama Reva, atau yang lebih dulu ada, Nayla sama Tristan) dalam hal memajukan negeri, atau menghancurkan negeri. Mau bagaimana lagi, kita orang Indonesia. Yang apabila disuguhi sesuatu, akan sangat ragu (bahkan merasa berdosa) untuk menolaknya. Yaaa, meskipun itu adalah pisau bermata dua, Media dan Teknologi itu tadi. Seperti sekarang ini, duet antara keduanya, tengah membuat makjegagik hati saya khususnya, dan saya berharap ada seseorang lainnya yang merasa makjegagik dan tergebrak hatinya. Semoga
Karena tidak bisa dipungkiri, duet antara Media dan Teknologi adalah penyumbang terbesar bobroknya generasi saat ini, di negeri ini. Dari bocah TK yang sudah belajar jadi Boy dan Reva, siswa-siswi bertatap mesra namun menyimpan masalah besar bahwa mereka harus menyadari perbedaan antara Vampir dan Manusia, atau banyaknya orang mendadak kaya dengan mengendarai Ninja hasil ancamannya kepada orangtua atau memaksakan diri untuk dipandang lebih tinggi, dan juga para orangtua yang sibuk bercengkrama sambil menyantap Bubur Ayam ditemani guyonan Rina Hidung dan Irfan Jaksa cs.
Terlihat rumit sekali, bukan? Sayangnya, tidak ada yang bisa disalahkan dari penyebab kerumitan ini, di satu sisi ada Bos Kapitalis Media dan Teknologi yang sedang mencari nafkah membiayai anak istrinya dengan segala kemewahannya dan memperluas usaha untuk menambah pundi-pundi harta sebagai modal menjadi penguasa, di sisi lain ada anak-anak, remaja, dan orangtua yang latah dan terpaksa menikmati Media dan Teknologi yang ada. Hlawong berlangganan TV berbayar kan mahal harganya.
Kalau saya sih, mendingan srawung sama teman lama. Pamer mantan lebih banyakan siapa, atau menangis tersedu-sedu bersama karena belum move on setelah sekian lama.
Bekasi, 12 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar