Rabu, 20 April 2016

Bukan Soal Jumlah

Ceritanya saya lagi 'gabut' banget. Belum ngantuk sama sekali, mau ngrokok sayang (tinggal dikit, besok ngisep apa dong), mau bikin kopi nanti malahan 'eneg' (biasalaaah, anak perantauan, perutnya jarang isi).

Jadi iseng-iseng saya menghitung jumlah teman yang saya miliki. Alih-alih jelas jumlahnya berapa, malah saya pusing sendiri. Padahal kalo emang mau ngitung jumlah sih mudah saja (bagimu, mudah saja untukmu), entah itu puluhan, ratusan, atau ribuan. Tetapi bukan kejelasan itu yang saya dapatkan, melainkan saya malah menjadi terpikir arti seorang teman.

Nah, inilah yang ada di pikiran saya tentang seorang teman. Teman adalah, suatu makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang entah bagaimana caranya mereka hadir dan melengkapi hidup kita. Hampir setiap teman satu dan yang lainya, berbeda cara ia hadir ke dalam hidup kita, entah itu; tidak sengaja satu kelompok ketika kita MOS, satu hobby yang dipertemukan ketika sekolah, duduk bersebelahan ketika naik angkot, menaksir cewek yang sama, tidak sengaja tertukar sendal ketika sholat Jum'at, ataupun tidak sengaja dan kaget ketika bertemu di bawah pohon pisang yang sama dengan maksud yang sama pula, (mencurinya) -sumpah yang terakhir itu saya belum pernah-, ya begitulah, ada keunikan tersendiri dari setiap pertemuan yang akhirnya menjadi sebuah pertemanan.

Nah, sekarang mari kita masuk lebih dalam tentang pertemanan.

Dalam setiap hubungan pertemanan, pastinya akan selalu ada yang namanya perbedaan. Entah itu pendapat, hobby, kelas sosial, kecerdasan, agama, pekerjaan, sekolah, dan lain-lain. Dan dari perbedaan itu, kita akan dapat membaginya lagi menjadi dua kemungkinan;

1. Menjadi lebih eratnya tali pertemanan yang akan menaikkan levelnya menjadi persahabatan. Dalam hal ini, mereka menjadikan perbedaan sebagai keasyikan tersendiri dalam rangka mencaci maki. Kenapa caci maki? Karena candaan-candaan yang didapat dari perbedaan itu, menjadikan mereka lupa akan perbedaan itu sendiri. Yang ada hanyalah mereka sama-sama bahagia, tertawa, dan merasakan 'bapuknya' dicaci maki.

2. Menjadi jurang pemisah dari kehidupan bersosial manusia, artinya; mereka menganggap bahwa perbedaan adalah hal yang memang berguna sebagai pembeda. Antara si pemilik hobby A dan hobby B, antara si anaknya Pejabat atau anaknya Rakyat, antara anaknya Konglomerat atau anaknya Buruh sikat. Di keadaan ini, mereka menganggap bahwa berteman dengan seseorang yang berbeda harta, kasta dan  rupa tidak patut untuk dijadikan sebuah teman. Buruk memang, tetapi kenyataan.

Bahasannya mulai dalam neeh, hazeeeek. Nah sekarang saya akan menyinggung masalah di dalam kehidupan yang melibatkan pertemanan. Begini, nanti saya sambung lagi, karena ini juga sudah terlalu panjang. Nanti malahan nggak ada yang mau membaca sama sekali, kan syediiiiii :'(((

Tidak ada komentar:

Posting Komentar