Minggu, 01 Mei 2016

Sop(sop)an

Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda entah antara; tempat, keluarga, ataupun watak kepribadiannya. Menurut pandangan saya pribadi, perbedaan tercipta untuk menjadikan kita sebagai manusia yang senantiasa belajar dari manusia lainya.
Salah satunya adalah sopan santun. Hal inilah yang akan saya bahas, karena kebetulan saya sendiri tengah merasakan dampak dari ketimpangan sopan santun yang tersebar; entah itu kurang merata, tidak terjangkaunya suatu tempat, atau memang tertutupnya diri si penerima. Entahlah, saya tidak tahu.
Menurut saya, sopan santun adalah hal wajib dimiliki setiap manusia sebagai bekal hidup bersosial, dalam lingkungan apapun; entah itu pendidikan, pekerjaan, ataupun lingkungan kita tinggal. Karena kurangnya sopan santun akan banyak dampaknya bagi hidup kita, dan itu bukan dampak positif. Serem kan?
Contohnya begini; Sebagai seorang perantau yang tinggal dan mencari penghasilan di daerah lain, kita harus sangat cukup mempunyai bekal sopan santun. Karena sebagai perantau, kita bukan hanya numpang mencari remah-remah rezeki, tapi juga menjadi bagian baru dari lingkungan itu, dan kewajiban kita adalah menyesuaikannya. Saat ini, ada seorang teman baru saya, dia masuk kerja beberapa hari yang lalu. Dan sebagai seorang yang Perfeksionis, saya sangat faham sebab kenapa ia kurang dalam bersopan santun;
Pertama, ini memang pekerjaan pertamanya, sebelumnya belum pernah bekerja apalagi merantau, jadi wajar saja jika sekali ia datang tidak mengetahui kesalahan kecil yang akan mengganggu orang lan, seperti; sekadar menyapu rumah kontrakan, membersihkan kamar mandi, dan hal-hal lainya yang seharusnya dilakukan secara bergantian.
Kedua, mungkin dari lingkungan tempatnya berasal, sopan santun tidak menjadi hal penting. Bisa dikarenakan setiap orang di lingkungan asalnya hanya mementingkan dirinya sendiri, persetan dengan orang lain, yang penting gua aman, bahagia, seperti itu mungkin. Anjir!!!
Ketiga, bisa jadi karena memang dirinya sendiri yang kurang terbuka dengan kehidupan luar, menjadi orang rumahan itu tak selamanya baik. Ketika ia keluar dari zona kehidupannya, bisa saja ia kikuk dan kebingungan apa yang sebaiknya ia lakukan, yang akhirnya malah menjadi sebuah kesalahan. Misalnya, karena selama ini ia hanya hidup di lingkungan rumahnya yang notabene sudah sangat akrab, sesepele hal meminjam sendal tanpa meminta izin mungkin tak menjadi masalah, nah karena sudah menjadi kebiasaan, di lingkungan baru pun ia melakukan hal yang sama, dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi suatu masalah. Bahaya men!
Itu hanya sedikit contoh, hal kecil (kurang sopan santun) yang bisa saja menjadi kesalah pahaman, atau bahkan kematian. Jangan salah.
Dan sekarang saya akan membahas teman baru saya, atau lebih tepatnya keresahan saya pribadi, seperti ini;
Ya masa, ada bantal meskipun ketika ia datang si pemilik bantal itu tidak ada. Lalu ia pakai bantal itu, ketika si pemilik bantal datang, dengan tampang seperti orang nggak punya dosa ia tetap memakai bantal itu. Jadi begini, ada batas di mana benda A milik si A dan benda B milik si B, jika memang si A punya rasa sopan santun yang tinggi, untuk memakai benda milik si B ia akan meminta izin terlebih dahulu. Tidak main nyelonong aja kaya kang Bajaj. Tetapi saya maklumi karena memang ini kali pertama ia menjadi seorang yang keluar dari zona nyamannya.
Epilog
Sopan santun menurut saya pribadi adalah hal yang SANGAT penting. Saya sudah mengalaminya sendiri, sesepele lewat depan sekelompok pemuda tanpa permisi, nyawa saya hampir melayang. Sebagai contoh mungkin sudah cukup, bahwa sopan santun sekecil permisi adalah hal yang sangat penting.
Sekian, mari menjaga sopan santun, biar Indonesia banget. Dan tentunya meminimalisir kita mendapat masalah. Terima kasih sudah membaca.

2 komentar:

  1. Alngkah baiknya kalau Blognya Di Beri Lebel Mas,, Biar Pembaca Lebih Enak Ketika Memilih Kategori

    BalasHapus
    Balasan
    1. Secepatnya saya perbaiki Mas, maklum masih newbie. Terima kasih sarannya Mas.

      Hapus