Sabtu, 30 April 2016

Yang Katanya Zona Nyaman

Ada yang bilang kurang lebih bunyinya seperti ini "Keluarlah dari zona ke-tidak-nyaman-an-mu, dan beranjaklah dari zona nyamanmu" -ini orang maunya apa sih ngomong dibolak-balik, diputar-puter gajelas- oke, terserah siapapun yang mengatakan itu, saya punya pandangan sendiri mengenai hal ini.

Logikanya begini, sebuah Bintang yang jatuh ke dalam kubangan (entah itu lumpur, limbah industri, limbah rumah tangga, atau limbah manusia), bukankah tetap saja namanya Bintang. Beklah kalo Bintang kesannya terlalu tinggi, ambisius.

Begini saja, misal kau punya satu koin logam, sebut saja pecahan Rp.1000, terserah akan kau apakan koin itu; diceburin empang kek, digilesin kereta kek, dilemparin ke jidat mantan kek, dipakein buat nusuk-nusuk tai ayam kek, diselipin di sela-sela kuping kek, semau-mau jidat lau pokoknya dah. Bukankah namanya tetap koin logam, dan bukankah tetap menjadi pecahan Rp.1000?

Sudah, itu saja. Kalian pasti tahu lah maksud saya. Terima kasih sudah membaca.

Jumat, 29 April 2016

KEREN (air)

Setelah bertapa selama 40 hari 40 malam (nggak deng, boong), saya menarik benang merah yang tidak terlalu merah tapi tetap bisa dibilang merah; ternyata di zaman ini, semua hal mempunyai dasar yang sama, yaitu KEREN. -.- *yo opo iki*

Mau makan, di tempat KEREN
Mau minum, di tempat KEREN
Mau sekolah, di tempat KEREN
Mau belanja, di tempat KEREN
Mau eek, di tempat KEREN
Mau beribadah, biar KEREN
Mau nakal, biar KEREN
Dan masih banyak sesuatu yang berembel-embel KEREN di belakangnya, dan saya malas sekali untuk menyebutkannya.

Selasa, 26 April 2016

Bukan Benar, Tapi Baik

Entah kenapa saya selalu suka melihat mereka melakukan sesuatu yang berhubungan dengan 'mimpi'. Karena saya juga seorang pemimpi pastinya. Pemimpi gila sih lebih tepatnya.
Mereka menjadikan saya lebih greget untuk beradu mimpi, sepertinya menyenangkan; berkompetisi melawan diri sendiri, ketika kita memenangkannya, banyak orang yang akan ikut merasakannya. Sesepele status Facebook, seperti; "Ya Allah, semoga dari apa yang kudapat sekarang, adalah apa yang kau tambahkan di hari yang akan datang" (kata saya) atau "Kepengen deh, jadi anak yang bisa ngebanggain ortu, mulai sekarang berarti harus lebih dalam masuk jurang dan lebih tinggi menerbangkan mimpi" (kata saya juga). Dikarenakan jarang sekali saya melihat status yang sama atau dengan maksud demikian Wah, parah!!!
Menurut saya, kalimat seperti itu terlihat indah sekali. Tampak ada kesungguhan di dalamnya.
"Ya iyalah, kan elu yang nulis sendiri, nengndi ae bebek yo silem"
"-______-"
Oke lanjut~
Masih banyak sebenarnya yang membuat saya merasa greget ketika membacanya, seperti; "Ya Allah, kuatkan hambamu ini. Meskipun selalu disakiti", "Aku lelah Tuhan, kenapa harus selalu seperti ini", "Semua cowok memang sama, nggak punya perasaan", atau "Indomie dulu, bareng kesayangan". -___-
Sumpah status-status seperti itu sangat membuat greget perasaan saya. Rasa-rasanya ingin saya temui siapa orangnya lalu saya berikan semua yang saya punya (dalam wujud kotoran manusia) Bhahahaha. Nggak-nggak.
Jadi begini, memang di era (ceileh bahasanya) seperti ini, dengan bertambah mudahnya kita mengakses teknologi yang di dalamnya berisi berbagai macam kemudahan (kemudahan dalam belajar-mengajar, kemudahan dalam berkomunikasi, kemudahan dalam bermalas-malasan, dan lain sebagainya yang jika ditulis hasilnya akan sama dengan buku KBBI) -___-. Yang nantinya akan ada dampak baik itu positif ataupun negatif dari itu semua, contoh :
- Teknologi saat ini sangat memudahkan kita untuk mengakses informasi-informasi yang (mungkin) belum pernah kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Seperti bagaimana cara stalking mantan yang baik dan benar, bagaimana cara ngehack facebook mantan supaya nggak ketahuan, juga bagaimana cebok yang baik dan benar. -___-
- Di sisi lain, teknologi yang semakin hari semakin canggih, semakin mudah kita akses walaupun hanya berbekal "handphone android merk china". Akan semakin membuat kita malas-malasan untuk memahami makna hidup bersosial, yang ada hanya bagaimana kita puas dan merasa hebat dengan diri kita sendiri. Pun dalam hal di saat kita berada dalam posisi yang tidak semestinya kita rasakan, seperti putus dengan pacar, ditikung sahabat sendiri, diselingkuhin sampe berpuluh-puluh kali, dsb.
Dan dari itu semua, kita akan lebih memilih mencurahkan semua apa yang kita rasakan kepada teknologi, dalam hal ini sosial medialah tempatnya. Karena itu, semakin hari semakin banyak pula bermunculan bibit-bibit unggul cabe rawit, terong-terong super, ataupun terong dicabein sisa kemaren alias Basi. Contohnya ya seperti yang saya sebutkan di atas.
Lalu bagaimana cara mengatasinya?
Caranya mudah, cukup sms dengan format (Ketik REG (spasi) TJURKHAT (spasi) CURHATAN ANDA lalu kirim ke nomor Ibu atau Bapak anda) mudah bukan?.
~Bukan, bukan itu, aku rasa kita pun tahu, petaka terjadi, karena salah kita sendiri.~
Seperti lagu tadi, kesalahannya ada dalam diri kita sendiri, untuk membenarkannya mudah saja kok, seperti; bijak dalam membual (paling tidak pikirkanlah dulu sebelum kita mengklik 'kirim' atau 'enter' kira-kira akan mebuat risih orang lain, dan menyinggung orang lain atau tidak) memang pasti akan ada yang menyangkal dengan berkata 'biarin aja kenapa sih, facebook-facebook gue, hp-hp gue, berisik lau' seperti itu. Dan bukan hal yang salah, hanya saja anda sangat terlihat sebagai bibit unggul dan penerus generasi michin. Saya turut prihatin -.-
Okelah kalau memang anda nyaman bersosial media dengan style anda yang seperti itu. Tapi, (pasti) akan ada seseorang yang menilai anda dari apa yang ia lihat pada beranda sosial media anda, dan (pasti) akan ada salah satu di antara mereka yang merasa risih bahkan jijik dengan apa yang mereka lihat di beranda sosial media anda. Dan kalau seseorang itu adalah salah satu orang yang penting bagi hidup anda, yasudah. Matilah saja kau.
~Epilog~
Dalam kehidupan manusia, selalu ada hal yang sebaiknya ditampilkan kepada publik dan sebaiknya tidak ditampilkan kepada publik. Dalam hal ini, kreatifitaslah yang seharusnya kita tampilkan dengan wujud tulisan, foto, ataupun video. Agar publik mengenal kita, pada keadaan sebaik-baiknya kita.
Terima kasih sudah membaca, jika ada yang ingin disampaikan atau ditanyakan, silakan, sudah tersedia kolom komentar. Sekian ~~~

Rabu, 20 April 2016

Ilmu

Jadi ceritanya, akhir-akhir ini saya 'random' sekali. Mencoba banyak hal yang saya sukai, seperti menulis (entah itu sekadar quote-quote recehan, puisi yang nggak bisa dikatakan puisi sama sekali, atau baru-baru ini sedang senang sekali menulis artikel) karena itu saya juga bergabung dengan sebuah komunitas menulis, menggambar (hand lettering dan doodling juga) dan bermain gitar (ya walaupun belum hafal kunci dasar). Tetapi saya suka, karena memang saya adalah typical orang yang ingin tahu (segalanya), ya walaupun mungkin hanya sebatas dasar pun belum bisa.

Ada satu quote yang 'makjleb' ke lubang pikiran dan liang hati saya, entah siapa yang menulisnya, quotenya kurang lebih seperti ini "Kamu punya seratus, aku punya seratus. Kita tukar, masing-masing kita akan tetap punya seratus. Kamu punya satu ilmu, aku punya satu ilmu. Kita tukar, masing-masing kita akan punya dua ilmu." indah sekali bukan.

Makannya (pake sendok) ayo sama sama kita cari sebanyak-banyaknya ilmu, lalu kita sama-sama bertukar ilmu, agar semakin banyak ilmu yang kita punya.

Udah itu aja sih ~~~

D3 (Diam Dulu Dong)

Ya kan kalian nggak tahu apa maksud dari perbuatan mereka, jadi ya coba diam di tempat dan cukup melihat.

Ya kan kalian nggak tahu mereka seperti itu untuk atau karena siapa, jadi ya biarkan saja mereka berbuat semaunya.

Ya kan kalian nggak tahu mereka seperti itu karena apa, jadi ya tidak usah menyimpulkan yang tidak-tidak tentang mereka.

Jadi, melihat dan mendengar belum cukup untuk dikatakan sebagai cara belajar. Perlu sebuah pemahaman yang mendasar untuk menyimpulkan apakah kita benar-benar mengerti, atau sekadar membual karena tak tertahan lagi. Sekian ~~~

Bukan Soal Jumlah

Ceritanya saya lagi 'gabut' banget. Belum ngantuk sama sekali, mau ngrokok sayang (tinggal dikit, besok ngisep apa dong), mau bikin kopi nanti malahan 'eneg' (biasalaaah, anak perantauan, perutnya jarang isi).

Jadi iseng-iseng saya menghitung jumlah teman yang saya miliki. Alih-alih jelas jumlahnya berapa, malah saya pusing sendiri. Padahal kalo emang mau ngitung jumlah sih mudah saja (bagimu, mudah saja untukmu), entah itu puluhan, ratusan, atau ribuan. Tetapi bukan kejelasan itu yang saya dapatkan, melainkan saya malah menjadi terpikir arti seorang teman.

Nah, inilah yang ada di pikiran saya tentang seorang teman. Teman adalah, suatu makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang entah bagaimana caranya mereka hadir dan melengkapi hidup kita. Hampir setiap teman satu dan yang lainya, berbeda cara ia hadir ke dalam hidup kita, entah itu; tidak sengaja satu kelompok ketika kita MOS, satu hobby yang dipertemukan ketika sekolah, duduk bersebelahan ketika naik angkot, menaksir cewek yang sama, tidak sengaja tertukar sendal ketika sholat Jum'at, ataupun tidak sengaja dan kaget ketika bertemu di bawah pohon pisang yang sama dengan maksud yang sama pula, (mencurinya) -sumpah yang terakhir itu saya belum pernah-, ya begitulah, ada keunikan tersendiri dari setiap pertemuan yang akhirnya menjadi sebuah pertemanan.

Nah, sekarang mari kita masuk lebih dalam tentang pertemanan.

Dalam setiap hubungan pertemanan, pastinya akan selalu ada yang namanya perbedaan. Entah itu pendapat, hobby, kelas sosial, kecerdasan, agama, pekerjaan, sekolah, dan lain-lain. Dan dari perbedaan itu, kita akan dapat membaginya lagi menjadi dua kemungkinan;

1. Menjadi lebih eratnya tali pertemanan yang akan menaikkan levelnya menjadi persahabatan. Dalam hal ini, mereka menjadikan perbedaan sebagai keasyikan tersendiri dalam rangka mencaci maki. Kenapa caci maki? Karena candaan-candaan yang didapat dari perbedaan itu, menjadikan mereka lupa akan perbedaan itu sendiri. Yang ada hanyalah mereka sama-sama bahagia, tertawa, dan merasakan 'bapuknya' dicaci maki.

2. Menjadi jurang pemisah dari kehidupan bersosial manusia, artinya; mereka menganggap bahwa perbedaan adalah hal yang memang berguna sebagai pembeda. Antara si pemilik hobby A dan hobby B, antara si anaknya Pejabat atau anaknya Rakyat, antara anaknya Konglomerat atau anaknya Buruh sikat. Di keadaan ini, mereka menganggap bahwa berteman dengan seseorang yang berbeda harta, kasta dan  rupa tidak patut untuk dijadikan sebuah teman. Buruk memang, tetapi kenyataan.

Bahasannya mulai dalam neeh, hazeeeek. Nah sekarang saya akan menyinggung masalah di dalam kehidupan yang melibatkan pertemanan. Begini, nanti saya sambung lagi, karena ini juga sudah terlalu panjang. Nanti malahan nggak ada yang mau membaca sama sekali, kan syediiiiii :'(((

Selasa, 19 April 2016

Cinta(i)

Cinta, kalian semua pasti sudah tahu apa itu. Kalo kata orang yang pernah saya temui, cinta adalah suatu perbuatan di luar kendali setiap jiwa yang memilikinya, karena apa?

"Apa??"

"Tau nggak???"

"Nggak tahu?"

"Yadah saya kasih tahu mau?"

"Tahu aja apa tahu gejrot?"

Oke, karena dengan cinta, semua manusia akan bisa menjadi sebaik-baiknya manusia, atau menjadi seburuk-buruknya manusia.

Contoh : salah satu teman saya mengatakan kalau saat ini ia sedang mengincar, atau mendambakan sih lebih tepatnya. Seorang gadis manis perawakan tipis dengan rambut yang dikuncir manis tapi bukan artis, dia (teman saya) mengaku kalau akhir-akhir ini menjadi rajin untuk BAB, eh bukan. Dia mengaku menjadi lebih rajin dari biasanya, entah itu bekerja, mandi, beribadah, membersihkan kamar, membersihkan halaman (halaman kantor walikota), atau yang lebih menghebohkan, ia menjadi lebih rajin membeli sabun batangan. Entah untuk apa saya juga kurang tahu, saya masih kecil, belum banyak tahu. -__-

Padahal ia mengaku bahwa sebelum ia mengenal wanita idamannya, ia sangat malas meskipun hanya untuk sekadar bernapas (gile ni orang, napas aja males). Jadi terlihat dengan jelas bukan, kalau cinta bisa membuat manusia berubah jauh berbeda dari sebelumnya.

Contoh lain : (Masih) salah satu teman saya lagi, ia mengatakan bahwa akhir-akhir ini dia menjadi malas sekali untuk mandi, beribadah dan hal-hal positif lainnya, karena apa. Karena e karena, si cewek yang ditaksirnya adalah salah satu kelompok fanatisme suatu genk, genk apa? Genk motor. Motor apa? Rahasia.

Itu lho, genk yang kelihatannya hidupnya enak semua, happy semua. Yang kerjaannya jalan-jalan entah kemana, tentu semau-mau mereka. Yang mereka mengaku menjunjung tinggi sebuah pertemanan lebih dari segalanya. Yang mereka lebih mementingkan keinginan pribadi daripada memikirkan keluarganya, tentu saja terlepas dari kemungkinan bahwa dalam kekeluargaan mereka menjadi korban broken home mungkin, korban kemiskinan mungkin, atau mungkin juga korban dari pil-pil dan minuman-minuman yang kata mereka enak sekali.

Bukan menjelek-jelekan ataupun merendahkan, setiap manusia memang bebas dan wajib dibebaskan untuk memilih apa yang menjadi keinginannya. Di sini, saya tidak akan menambah embel-embel suatu agama atau kepercayaan A atau B. Karena di setiap Agama, beribadah adalah wajib hukumnya. Saya juga tidak akan mengatakan bahwa mereka jarang beribadah, karena kembali ke kalimat pertama di paragraf ini.

Saya rasa, kok bahasannya jadi ke mana-mana ya. Apa karena saya telah digendong sama Mbah Surip. Ah, wateferlah.

Kembali ke cinta. Nah, dari dua contoh di atas, terlihat jelas bukan kalau cinta adalah perbuatan di luar kendali pemiliknya. Yang menjadikan si pemilik bisa berubah atau terpaksa mengubah dirinya.

Epilog

Cinta memang sesuatu yang sangat erat kaitannya dengan makhluk hidup yang bernama manusia. Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan? Hal sepele tapi sangat sulit untuk dilakukan, adalah ikhlas. Kenapa ikhlas? Karena dengan ikhlas, kita akan senantiasa menjadi diri sendiri. Entah itu ikhlas dalam hal menerima, atau ikhlas dalam hal gagal mendapatkannya. Sudah jelas bukan? Kalau belum, silakan tanyakan kepada diri anda sendiri, karena saya juga masih mencari jawaban itu. Sekian ~~~

Senin, 18 April 2016

Jijik

Sedang dalam keadaan; memikirkan mereka para manusia-manusia super Imbisil. Tergambar jelas pada zaman ini, zaman di mana mereka berpikir dangkal kepada dirinya sendiri, atau lebih tepatnya mengagumi. Contoh : "Menulis status Facebook hanya dengan kalimat Open BL 5 orang tercepat, atau Yang jomlo komen yaa" dan tetek bengek lainya. Rasanya ingin langsung saja, tanpa ba bi bu saya bernyanyi tepat di sebelah kuping mereka "Kamu siapa? Kamu sperti Jelly. Menjijikan sekaliiiii" dengan nada sebuah iklan di TV, iklan produk jelly atau bahasa kerennya agar-agar (berarti sama dengan supaya-supaya dong) ah nggak penting. Kembali ke batok, eh laptop. Eh, belum punya deng. Yadah langsung lanjut aja.

Mungkin bagi mereka memang sebuah kebanggan tersendiri menjadi idaman para kaum lawan jenis, bebas sih, saya juga gak mikirin. Tetapi, apa mereka tidak berpikir seperti apa penilaian orang di luar, entah itu risih, jijik, ilfill, gila, geli, ngilu, gatel, kebelet, atau apapun itu yang menggambarkan rasa tidak suka. Tapi, mungkin juga niat mereka baik, memberi "boom like" sekuat jempol mereka, hanya dengan me-ngelike status mereka tadi. Hanya saja caranya yang terlihat sok-sokan ngartis, nyeleb. "Neeeh gue seleb Facebook neeeeh" gitu mungkin ya? Bhahaha. Michin sekali.

Memang tidak selamanya mendengar kata orang adalah sesuatu yang benar. Tetapi kalau kata orang lain adalah sebenar-benarnya wujud dari kesalahan kita, bukankah mendengar mereka adalah bentuk dari sifat dewasa? Dan bukankah kedewasaan adalah salah satu sifat dan sikap yang mengagumkan.
Sudahlah, kita kembalikan saja kepada sifat dasar manusia yaitu Riya'. Saya sibuk, mau menangkap nyamuk-nyamuk biadab yang sedari tadi menusuk-nusuk seluruh bagian tubuh saya yang seksiyeh. Lho kok jadi Imbisil. Hallah gak penting.

Tulisan ini saya buat tanpa maksud untuk merendahkan atau apapun itu. Tetapi tulisan saya buat untuk menyatakan kejijikan saya kepada mereka.

"Sama aja dong?"

"Ya biarin, tulisan-tulisan saya ini, hp-hp saya ini. Cerewet ah!"

Sekian, salam dari saya. Makhluk Tuhan paling seksiyeh kedua setelah istrinya Ahmad Dhani.

"Imbisil lagi."

"Biarin ah!!! FAKKK!!!"

Hari yang berulang

Setiap satu dari jumlah yang bertambah, adalah satu yang berkurang dari waktu. Ya, Ulang tahun. Setiap manusia yang hidup pasti akan mengalaminya, entah akan sampai pada hitungan yang ke-berapa. Dan hari ini, adalah hari di mana seorang gadis tengah merayakan pengulangan hari lahirnya. Afrida Maula Azizah Annur, namanya.

Nak, di umurmu yang kesekian ini, semoga semua dasar bentuk dari semogamu, dapat terbentuk sesuai apa kemauanmu.
Nak, di hari lahirmu sekarang ini, semoga semua apa yang kau lakukan sekarang dan/atau yang akan datang, adalah bentuk dari kedewasaan seorang wanita.
Nak, di waktu yang berkurang satu di antara entah berapa, semoga apa yang kau harapkan dapat menjadi sesuatu yang disebut dengan bangga karena mendapatkan.
Nak, di hari ini, hari lahirmu. Semoga semua doa-doa yang kau lantunkan, semua harap yang kau gantungkan, semua mimpi yang kau terbangkan, akan menghampirimu satu per satu di kemudian hari yang kau inginkan.

Dariku, kakak ternakalmu.

NB : Tulisan ini ditulis dalam keadaan yang sangat genting (bayangin aja; kebelet boker di saat baru masuk Tol, macet pula) ditambah dengan melawan rasa kantuk dan panasnya jalanan Ibukota.