Senin, 20 Juni 2016

Negeriku Sayang Negeriku Malang

(Balada bencana Tambak dan apatisme di dalamnya)

Alkisah di sebuah negeri, dengan ketentraman pribadi, hiduplah banyak sekali warga yang ada di dalamnya. Dari berbagai generasi, dari berbagai kualitas pribadi, dan tidak ketinggalan kualitas akademis. Mereka hidup saling berdampingan, tentu saja dengan tenang (yang dibuat sendiri), dengan nyaman (yang dibuat sendiri), dan dengan segala apapun yang mereka buat sendiri. Entah karena mereka semua mempunyai sikap mandiri berlebih, ataupun karena memang sikap tidak peduli yang diberi tedeng alih-alih.

Pada suatu hari, terjadilah sebuah bencana, hujan turun tidak sebagaimana biasanya, yang menggemparkan negeri itu, memporak-porandakan sebagian wilayah yang ada di dalamnya, dan menghilangkan ketentraman yang ada di sana. Entah apa penyebabnya; mungkin alam yang sudah lelah dengan kasih sayang yang dibalas dengan kekejaman, atau mungkin pemilik semesta sedang ingin bercanda dengan warga di sana, atau hanya sebuah ujian kecil bagi setiap individu yang sebelumnya mampu mengahadapi sesuatu dengan dirinya sendiri, agar mereka sadar bahwa seharusnya mereka saling berbagi. Entahlah, semuanya bisa saja terjadi.

~~~

Mereka berlarian, untuk menunggu. Menunggu air pergi, untuk kemudian kembali disibukkan dengan diri sendiri. Tidak berselang waktu yang lama, akhirnya air pergi dengan sendirinya, mencari tempat untuk beristirahat setelah dilelahkan dengan candaan mereka kepada warga. Lalu dimulailah sebuah babak baru, di mana semua penghuni negeri disibukkan dengan dirinya sendiri. Benar, dirinya sendiri. Di satu sisi ada sekumpulan warga sibuk membenahi keperluannya sendiri, di sisi lain ada sekumpulan warga yang dengan besar hati menyampingkan egonya, untuk membantu warga yang dibercandai semesta, dan di sisi lainnya ada sekumpulan warga yang sedang sibuk dengan urusannya.

Entah kenapa? Semesta belum mampu menyatukan mereka. Mungkin lain kali, dengan bercandaan yang lebih lucu lagi. Bisa jadi segera, atau waktu yang lama. Siapa yang tahu?

~~~

Sebelum ini, ada bencana yang menimpa sebuah negeri lainnya. Sedikit berbeda, di sana semesta tidak begitu bercanda, mungkin hanya seperti lirikan mata. Adalah seorang pedagang tua, yang diangkut paksa dagangannya oleh penguasa negeri itu, mungkin hanya salah paham, atau kesengajaan dari bentuk kekuasaan, saya sendiri tidak tahu. Tak butuh waktu yang lama 'BOOM!!!' meledaklah sebuah perasaan yang sama, perasaan yang bersatu padu. Menciptakan gelombang kepedulian yang begitu besar, jika ukuran gelombang itu adalah uang, pastinya tidak akan ada seorang manusia pun yang akan mengingkari kebesarannya. Rp. 267 juta, itulah besar gelombang kepedulian yang mampu terkumpul, atas dasar rasa yang sama, peduli.

Tetapi berbeda dengan negeri ini, seperti tidak ada yang namanya peduli di sini. Entah harus bagaimana lagi, entah siapa yang harus disalahkan atas hilangnya peduli di sini. Apakah warga biasa yang pengetahuan moral dan kepedulian di bawah rata-rata? Ataukah seluruh warga tanpa status akademis yang menjadi acuannya? Atau juga warga yang diberkahi dengan status akademis yang dimiliki, yang pastinya pengetahuan moral dan kepedulian lebih tinggi dari warga lainnya?

Tidak tahu, saya tidak mampu untuk menjawabnya. Di satu sisi ada warga yang sibuk dengan tempat tinggal mereka yang hanyut terbawa air, yang menyebabkan mereka hanya mengurusi diri sendiri. Di sisi lain ada warga yang sibuk dengan; anak, istri, kekasih, kesenangan, kenarsisan, kebodohan, pekerjaannya dan semua kesibukan pribadinya, tetapi ada yang mampu mengesampingkan ego dirinya sendiri untuk membantu sesama. Dan di sisi lain ada warga yang disibukkan dengan kegiatan akademisnya, entah itu skripsi, praktikum, presentasi, atau bisa juga kekasih hati, yang untuk peduli saja, mereka tidak punya sedikit waktu tersisa. Apa mungkin mereka tidak mau menyisakan waktu untuk itu? Entahlah.

Padahal, di sisi ketiga itu lah tempat paling luas untuk meledakkan sebuah kepedulian. Padahal, di generasi itu lah tempat di mana paling banyak terdapat bahan peledak kepedulian. Padahal, di tempat itu juga terdapat paling banyak standar lebih tinggi dalam hal ilmu keduniawian, keorganisasian, kepedulian, kemampuan mengolah kebaikan, ataupun keagamaan. Namun apa yang terjadi sekarang, jauh dari harapan selayaknya harapan yang ada di diri akademisi di negeri ini. Yang pada akhirnya, sikap apatis tetap menjadi  sikap paling umum di negeri ini.

~~~

Semoga negeri ini akan bangkit dari bencana yang menimpanya. Semoga pemilik semesta tidak lagi ingin bercanda kepada negeri dengan sikap apatisme warganya. Semoga semesta tetap mampu mengasihi negeri ini tanpa amarah (lagi). Semoga warga di negeri ini tidak lagi hanya mengurusi diri sendiri. Dan semoga semua generasi umumnya dan generasi akademisi khususnya, akan menjadi generasi dengan perasaan peduli berlebih di dalam hati. Semoga. Karena kalau bukan kita sendiri, siapa lagi???

NB :
- Tulisan ini bisa disebut dengan kekecewaan saya kepada mereka (warga Kecamatan Tambak umumnya, dan yang merasa mengenal saya khususnya) yang nyatanya terdidik tetapi tidak seperti manusia terdidik.
- Jika ada yang merasa dirugikan, dicemarkan, atau apapun. Silakan hubungi saya.

Minggu, 12 Juni 2016

Ketika Sebuah Negeri Digeneralisasi Agama Oleh Aparaturnya

Beritahu saya, apa yang kurang hebat dari aparatur negara kita, Indonesia. Dari pembubaran diskusi, pemberedelan buku, penangkapan orang yang punya kreativitas berlebih, dan sekarang, yang paling terbaru, dan hebat (baca : menyedihkan), ketika para pedagang diangkut paksa dagangannya, ditutup paksa lapaknya. Dengan alasan, menghormati mereka yang berpuasa.

Memang, mereka hanya diperintah oleh atasannya. Yang mungkin tidak tahu apa itu kebebasan beragama. Bahwa Iman seseorang, hanya seseorang itu lah yang menentukan. Bahwa Iman seseorang, adalah mutlak menjadi keputusan ia dan Tuhannya.

Kita bukan Tuhan, aparat bukan Tuhan, dan penentu keputusan juga bukan Tuhan, yang mampu mendorong seseorang untuk menuruti keimanan sebuah agama, bahkan menggeneralisir mereka menjadi satu agama, Islam. Bukankah hanya akan menambah persoalan? Menambah buruk citra sebuah agama? Yang padahal Tuhannya saja membebaskan setiap hamba-Nya.

“Ini Indonesia, Pak. Dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika-nya.”

Media dan Teknologi sebagai alat Kapitalisasi

Zaman sekarang, siapa yang tidak tahu tentang Teknologi? Sepertinya hampir tidak ada; dari anak kecil yang celananya kedodoran yang seharusnya bermain layangan di lapangan, remaja sekolahan yang seharusnya belajar dan mengaji, dewasa yang sebaiknya menggunakannya untuk memperluas pengetahuannya, sampai orangtua yang lupa akan kewajiban mendidik anak-anaknya. Ya, hampir semuanya tahu dan mahir dalam menggunakan teknologi (tetapi entah mengenai bijak dalam menggunakannya). Apalagi ditambah dengan banyaknya Media yang menayangkan segala bentuk keindahan dan kemewahan (duniawi) di zaman ini. Banyak sekali. Dan juga Media apapun.

Media dan Teknologi. Dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan (ibarat sinetron ya Boy sama Reva, atau yang lebih dulu ada, Nayla sama Tristan) dalam hal memajukan negeri, atau menghancurkan negeri. Mau bagaimana lagi, kita orang Indonesia. Yang apabila disuguhi sesuatu, akan sangat ragu (bahkan merasa berdosa) untuk menolaknya. Yaaa, meskipun itu adalah pisau bermata dua, Media dan Teknologi itu tadi. Seperti sekarang ini, duet antara keduanya, tengah membuat makjegagik hati saya khususnya, dan saya berharap ada seseorang lainnya yang merasa makjegagik dan tergebrak hatinya. Semoga

Karena tidak bisa dipungkiri, duet antara Media dan Teknologi adalah penyumbang terbesar bobroknya generasi saat ini, di negeri ini. Dari bocah TK yang sudah belajar jadi Boy dan Reva, siswa-siswi bertatap mesra namun menyimpan masalah besar bahwa mereka harus menyadari perbedaan antara Vampir dan Manusia, atau banyaknya orang mendadak kaya dengan mengendarai Ninja hasil ancamannya kepada orangtua atau memaksakan diri untuk dipandang lebih tinggi, dan juga para orangtua yang sibuk bercengkrama sambil menyantap Bubur Ayam ditemani guyonan Rina Hidung dan Irfan Jaksa cs.

Terlihat rumit sekali, bukan? Sayangnya, tidak ada yang bisa disalahkan dari penyebab kerumitan ini, di satu sisi ada Bos Kapitalis Media dan Teknologi yang sedang mencari nafkah membiayai anak istrinya dengan segala kemewahannya dan memperluas usaha untuk menambah pundi-pundi harta sebagai modal menjadi penguasa, di sisi lain ada anak-anak, remaja, dan orangtua yang latah dan terpaksa menikmati Media dan Teknologi yang ada. Hlawong berlangganan TV berbayar kan mahal harganya.

Kalau saya sih, mendingan srawung sama teman lama. Pamer mantan lebih banyakan siapa, atau menangis tersedu-sedu bersama karena belum move on setelah sekian lama.

Bekasi, 12 Juni 2016

Kamis, 02 Juni 2016

Mimpi

Bukan salah mereka; ketika berbicara kepada orang lain dengan penuh rasa bangga (bahkan terdengar dilebih-lebihkan), karena tanpa sadar, harapanlah yang tengah mereka katakan. Dari seorang anak yang diberinya kepercayaan, walaupun ucapannya tidak demikian. Orangtua mana pun, pasti menginginkan anaknya menjadi yang terbaik, setidaknya, di dalam silsilah keluarganya. Dan kita sebagai anak (yang dibangga-banggakannya) seharusnya mewujudkan apa yang dikatakan mereka.

"Kita lah yang seharusnya  mengikuti ucapan (harap) dari bibir mereka, bukan kekecewaan mereka yang harus mengikuti apa adanya diri kita."

Mengubah diri sendiri itu perlu, silakan, siapa pun yang akan kita ikuti, bahkan lalui. Setinggi apapun, sehebat apapun.
Ayo, beradu mimpi denganku, untuk sama-sama mewujudkan 'bangga' Ibu-Bapakku, Ibu-Bapakmu, Ibu-Bapak kita.