Jadi ceritanya, beberapa waktu yang lalu, saya ngeliat ada hestek yang membikin jantung saya makjegagik seketika. #BeAPicker, adalah hestek yang saya temukan di facebook, dari sebuah official account apa gitu, lupa namanya. Kalo nggak salah, #BeAPicker artinya "jadilah pemetik" gitu, kan?
Mungkin kita disuruh jadi petani ya? Eh bukan, maksud saya, gampangnya begini; kata 'Be A Picker' tanpa sadar menyuruh kita untuk menjadi seorang pemetik/penerima. Kalau menurut saya, pemetik di sini adalah tentang sebuah hasil, di mana kita diperintahkan untuk mengambil sisi tersulit darinya, apalagi kalau bukan "menerima".
Bukahkah terkadang kita masih saja misuh-misuh dengan hasil dari usaha kita. Entah itu nembak gebetan, melamar pekerjaan, melamar istri orang, atau apapun yang hasilnya kita idam-idamkan. Nah, dengan adanya hestek ini, tanpa sengaja saya pribadi menjadi tergugah hati dan pikirannya. Bahwa dari setiap hasil yang kita dapatkan (baik negatif maupun positif), seharusnya kita berpikir lebih dalam dan memetik sebuah pelajaran.
Contohnya;
Doni adalah seorang mas-mas berdarah Jawa (yaiyalah, kalo darah Sunda mah sebutannya akang, gblg!), dia sudah lama naksir kepada Iwan, eh maksud saya Intan, gadis manis dengan bulu mata lentik, berkumis tipis, rajin beribadah dan pintar memasak.
Sudah tiga tahun lamanya, Doni memendam perasaannya kepada Intan, lalu di tahun keempat ini, Doni berjanji kepada diri sendiri untuk memberanikan diri menyatakan cinta kepada Intan.
***
Setelah habis tiga batang kretek dan se-ember kopi hitam di warung Bu Ratinah, tibalah saat yang dinanti-nantikan Doni. Intan pulang dari masjid bersama sepupunya, Shinta.
***
"Assalamualaikum, Intan, Shinta"
"Waalaikum.."
"Tan, boleh aku ngomong sebentar sama kamu? Shin, bisa tinggalkan kami berdua? Maaf." dengan tergesa-gesa Doni berkata.
"Oh iya nggak apa-apa, Don. Aku juga buru-buru, kebelet eek, ehe ehehe." Shinta pun ngiprit meninggalkan Doni dan Intan berduaan di bawah lampu jalan.
"Mau ngomong apa, Don?" Jawab Intan dengan menundukkan mukanya.
"Tan, sebenernya... Sebenernyaaa.... Seb.. seb.. sebenernyaaa udahempattahuniniakunaksirkamuTan" jawab Doni sambil menggenggam tangannya sendiri.
"Maaf, kamu ngomong apa, Don?"
"Sebenernyaa selama empat tahun ini aku naksir kamu, Tan. Dan baru sekarang aku berani ngomong sama kamu. Selama empat tahun ini, aku lihat kamu juga ngga pernah dijemput atau didatengin cowok. Kamu jomblo kan, Tan? Kamu mau nggak jadi patjarku? Aku tulus sama kamu, Tan. Aku bener-bener suka kamu apa adanya." Akhirnya, Doni pun mengatakan apa yang selama ini ia pendam dalam-dalam (kurang lebih 10m di bawah tanah).
"Sebelumnya aku minta maaf, Don. Aku juga tau kalo kamu cowok baik-baik, nggak pernah ikut temen-temenmu nyolong mangga di depan rumahku, nggak pernah ngatain Abahku botak, dan kamu juga cowok yang pinter, bertanggungjawab dan dapat dipercaya, juga suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan." Jawab Intan dengan sedikit mengutip Dasa Dharma Pramuka.
"Terus, kamu mau jadi patjar aku, Tan?" Doni berbicara dengan mata berbinar.
"Maaf, Don. Aku nggak bisa nerima cinta kamu, kita temenan aja ya?" Jawab Intan.
"Tapi, Tan..." Jawab Doni seperti menahan perkataan, dipandanginya langit yang penuh bintang kejora.
"Maaf Don, tapi aku bener-bener nggak bisa. Udah ya, ntar batre aku abis." Jawab Intan sembari berjalan meninggalkan Doni sendiri, saya ulangi, sendiri.
Doni pun hanya bisa diam, dengan tatapan yang masih terpaku lurus ke angkasa, mungkin ia sedang menghitung berapa banyak bintang.
***
30 menit berlalu, Doni pun meninggalkan warung Bu Ratinah dengan pikiran-pikiran berbagai hal. Tapi ada satu hal penting yang ia pikirkan.
Ia bergumam, "Mungkin benar, akan sangat sulit untuk menyatukan dua hal yang ditakdirkan berbeda oleh Tuhan, apalagi kita sama-sama umat yang taat kepada ajaran masing-masing. Mungkin menurut Tuhan, yang terbaik untukku adalah yang seumat denganku."
***
Nah, dari contoh di atas, bukankah jelas terlihat betapa hebatnya sebuah perasaan menerima? Jadi, #BeAPicker termasuk menjadi kata yang mampu membuat hati dan pikiran saya bergetar, laksana menjumpai Mbak-mbak cantik yang say hello kepada saya.
"Kok bisa gini sih? Kok mantep banget sih? Wah wangun tenan iki? Uapik tenan iki, rek?"
Seperti itulah pertanyaan yang ada di pikiran saya ketika pertama kali melihat hashtag ini di facebook, cuma tiga kata, kok maknanya dalem sekali, gitu. Mirip sama "I Love You", ya, Mbak?
Sekian. Capek bacanya ya? Wkwkwk