Minggu, 24 Juli 2016

Be A Picker

Jadi ceritanya, beberapa waktu yang lalu, saya ngeliat ada hestek yang membikin jantung saya makjegagik seketika. #BeAPicker, adalah hestek yang saya temukan di facebook, dari sebuah official account apa gitu, lupa namanya. Kalo nggak salah, #BeAPicker artinya "jadilah pemetik" gitu, kan?

Mungkin kita disuruh jadi petani ya? Eh bukan, maksud saya, gampangnya begini; kata 'Be A Picker' tanpa sadar menyuruh kita untuk menjadi seorang pemetik/penerima. Kalau menurut saya, pemetik di sini adalah tentang sebuah hasil, di mana kita diperintahkan untuk mengambil sisi tersulit darinya, apalagi kalau bukan "menerima".

Bukahkah terkadang kita masih saja misuh-misuh dengan hasil dari usaha kita. Entah itu nembak gebetan, melamar pekerjaan, melamar istri orang, atau apapun yang hasilnya kita idam-idamkan. Nah, dengan adanya hestek ini, tanpa sengaja saya pribadi menjadi tergugah hati dan pikirannya. Bahwa dari setiap hasil yang kita dapatkan (baik negatif maupun positif), seharusnya kita berpikir lebih dalam dan memetik sebuah pelajaran.

Contohnya;

Doni adalah seorang mas-mas berdarah Jawa (yaiyalah, kalo darah Sunda mah sebutannya akang, gblg!), dia sudah lama naksir kepada Iwan, eh maksud saya Intan, gadis manis dengan bulu mata lentik, berkumis tipis, rajin beribadah dan pintar memasak.

Sudah tiga tahun lamanya, Doni memendam perasaannya kepada Intan, lalu di tahun keempat ini, Doni berjanji kepada diri sendiri untuk memberanikan diri menyatakan cinta kepada Intan.

***

Setelah habis tiga batang kretek dan se-ember kopi hitam di warung Bu Ratinah, tibalah saat yang dinanti-nantikan Doni. Intan pulang dari masjid bersama sepupunya, Shinta.

***

"Assalamualaikum, Intan, Shinta"
"Waalaikum.."
"Tan, boleh aku ngomong sebentar sama kamu? Shin, bisa tinggalkan kami berdua? Maaf." dengan tergesa-gesa Doni berkata.
"Oh iya nggak apa-apa, Don. Aku juga buru-buru, kebelet eek, ehe ehehe." Shinta pun ngiprit meninggalkan Doni dan Intan berduaan di bawah lampu jalan.
"Mau ngomong apa, Don?" Jawab Intan dengan menundukkan mukanya.
"Tan, sebenernya... Sebenernyaaa.... Seb.. seb.. sebenernyaaa udahempattahuniniakunaksirkamuTan" jawab Doni sambil menggenggam tangannya sendiri.
"Maaf, kamu ngomong apa, Don?"
"Sebenernyaa selama empat tahun ini aku naksir kamu, Tan. Dan baru sekarang aku berani ngomong sama kamu. Selama empat tahun ini, aku lihat kamu juga ngga pernah dijemput atau didatengin cowok. Kamu jomblo kan, Tan? Kamu mau nggak jadi patjarku? Aku tulus sama kamu, Tan. Aku bener-bener suka kamu apa adanya." Akhirnya, Doni pun mengatakan apa yang selama ini ia pendam dalam-dalam (kurang lebih 10m di bawah tanah).
"Sebelumnya aku minta maaf, Don. Aku juga tau kalo kamu cowok baik-baik, nggak pernah ikut temen-temenmu nyolong mangga di depan rumahku, nggak pernah ngatain Abahku botak, dan kamu juga cowok yang pinter, bertanggungjawab dan dapat dipercaya, juga suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan." Jawab Intan dengan sedikit mengutip Dasa Dharma Pramuka.
"Terus, kamu mau jadi patjar aku, Tan?" Doni berbicara dengan mata berbinar.
"Maaf, Don. Aku nggak bisa nerima cinta kamu, kita temenan aja ya?" Jawab Intan.
"Tapi, Tan..." Jawab Doni seperti menahan perkataan, dipandanginya langit yang penuh bintang kejora.
"Maaf Don, tapi aku bener-bener nggak bisa. Udah ya, ntar batre aku abis." Jawab Intan sembari berjalan meninggalkan Doni sendiri, saya ulangi, sendiri.

Doni pun hanya bisa diam, dengan tatapan yang masih terpaku lurus ke angkasa, mungkin ia sedang menghitung berapa banyak bintang.

***

30 menit berlalu, Doni pun meninggalkan warung Bu Ratinah dengan pikiran-pikiran berbagai hal. Tapi ada satu hal penting yang ia pikirkan.

Ia bergumam, "Mungkin benar, akan sangat sulit untuk menyatukan dua hal yang ditakdirkan berbeda oleh Tuhan, apalagi kita sama-sama umat yang taat kepada ajaran masing-masing. Mungkin menurut Tuhan, yang terbaik untukku adalah yang seumat denganku."

***

Nah, dari contoh di atas, bukankah jelas terlihat betapa hebatnya sebuah perasaan menerima? Jadi, #BeAPicker termasuk menjadi kata yang mampu membuat hati dan pikiran saya bergetar, laksana menjumpai Mbak-mbak cantik yang say hello kepada saya.

"Kok bisa gini sih? Kok mantep banget sih? Wah wangun tenan iki? Uapik tenan iki, rek?"

Seperti itulah pertanyaan yang ada di pikiran saya ketika pertama kali melihat hashtag ini di facebook, cuma tiga kata, kok maknanya dalem sekali, gitu. Mirip sama "I Love You", ya, Mbak?

Sekian. Capek bacanya ya? Wkwkwk

Sabtu, 23 Juli 2016

Perubahan

Setelah melakukan riset yang lama dan seksama. Tentang kopasan quote pasaran "Melangkah ke depan", atau "Menatap masa depan" mungkin maksudnya move on, dan/atau menggapai mimpi, atau hal-hal lain yang berdasar sama, "Perubahan". Atau mungkin tanpa maksud yang konkrit (baca : cuma ikut-ikutan kopas biar kekinian), kok lucu. Hahahaha

Nah bicara mengenai perubahan (baik), setiap orang pasti menginginkannya, entah itu; diri sendiri, keluarga, sampai sebuah negara. Betul? *iyain aja Plisss*. Dikarenakan saya adalah salah satu rakyat jelata yang peduli akan perubahan negeri ini, maka yang akan saya bahas di sini ya perubahan bangsa ini. Monggo diwaos (silakan dibaca).

Perubahan, dari yang buruk menjadi yang baik, dari yang baik menjadi lebih baik. Bicara perubahan suatu bangsa (maksud saya, generasi yang ada di dalamnya), sepertinya setiap orang akan sama; menuduh sistem pemerintahan yang tidak transparan, atau menuduh pemimpin negara yang tidak mendengarkan keinginan rakyatnya. HEEEEEYYY!!!! Bangun!!! Kerja!!! Hahahaha. *eh, itu sih lagunya Almarhum Mbah Surip ya. Ehe ehehehe*

Kalau kita hanya menyalahkan sistem pemerintahan dan pemimpin, mau sampai zaman Nenek Tapasha tobat, sampe Tukang Bubur Pulang dari Naik Haji juga nggak bakalan jadi. Perubahan ya dimulai dari hal-hal yang paling kecil, nah dalam suatu bangsa, hal-hal kecil itu ya kita ini, penduduk yang tinggal di negeri ini. Kalau bukan dari kita siapa lagi? Mantan?? Hassshh, ngawur!

Mari kita mulai;

Pertama, tentang generasi harapan negeri ini yang semakin hari kegilaannya semakin menjadi-jadi. Kita lihat di media sosial, saya akan mengambil contoh Fa*eb*ok. Karena memang di media sosial inilah kegilaan dan kebobrokan sebuah generasi terpampang dengan jelas di setiap postingannya. Open Boomlike, Chat Aku Dong, Promote Teman, Pamer Belahan Dada (ini yang saya tunggu), dan masih banyak lagi sampah yang dihasilkan generasi penerus bangsa di sana. Atau yang lagi hangat-hangatnya dibicarakan, si mbak cantik yang sekarang dijuluki "Drama Queen" di sosial media, siapa lagi kalau bukan Awkarin.

Nah, bagaimana cara mengubahnya?

Jawabannya ada di diri kita masing-masing. Saya beri contoh; simple saja, tidak perlu mencari perhatian hanya untuk mendapatkan 'Like' yang tidak lagi berguna. Like tidak akan menambah kapasitas pengetahuan Anda. Di saat orang lain sibuk memikirkan bagaimana jika Awkarin baru bermunculan, kalian masih sibuk cari perhatian dengan status "Pokemon aja dicariin, masa aku enggak". Hasshhh!!! Ra masuk.

Kedua; dari pergaulan mereka (adek-adek saya yang masih berseragam putih biru atau putih abu-abu) yang semakin hari semakin saya sayangkan. Seperti pacaran yang sangat belum waktunya, okelah kalo cuma jalan-jalan cari pengalaman. La kalo cari pengalamannya bukan jalan-jalan, tapi Anjal-anjalan? Mau ditaruh di mana masa depanmu, Nduuuuuk??? Juga gaya hidup yang kekinian tai-taian, distro-is, urbex-is, hash mbuh apa lagi, yang memerlukan banyak biaya hanya untuk dipandang keren dan idola. Idola NDHIASMU!!! Dan masih banyak lagi hal yang sebenernya kurang atau bahkan tidak bermanfaat.

"Biar pengalaman dan nggak ketinggalan zaman, Boss"

Pengalaman ndhiasmu? Pengalaman, memang perlu datang dari sesuatu yang tergambar dari sebuah perkataan ini "Kalau masih ngambek dibercandain, berarti mainmu kurang jauh, tidurmu kurang malem", tapi bukan berarti kowe-kowe pada keluyuran nggak jelas sambil cekikikan kaya orang mabok Pep*odent.

Mainlah ke banyak toko buku, jadi main jauhmu terlaksana. Dan baca banyak buku, jadi tidur malammu terlaksana. Beres kan?

"Masa hidup sesepaneng itu, Boss?"

Ya enggak juga kali, saya juga nggak kuat kalo terus-terusan kaya gitu. Seenggaknya hindari main cuma buat dateng ke tempat yang Instagram-able, dan ngabisin banyak duit buat beli baju distro yang katanya keren dan anggur yang katanya enak.

Jadi, sudah jelas bukan? Siapa yang seharusnya berperan dalam suatu perubahan?

Sekian.

Jumat, 22 Juli 2016

Jangan Salah di Informasi

Sekarang, ada dua jenis manusia yang berbeda di Indonesia;

pertama, orang yang masih sibuk nyari link download game Pokemon Go, sama orang yang masih bingung Awkarin itu obat flu dan batuk jenis apa. kedua, orang yang udah bosen Pokemon Go, bahkan mau bikin game sendiri (misal: The Adventure of My Ena-ena), dan orang yang udah ngelothok sama Awkarin beserta kisah cintanya, bahkan tahu size berapa dan apa model dalemannya.

Di kedua jenis manusia tadi, saya termasuk jenis pertama. Karena saya juga lebih bahagia jadi yang pertama, apalagi di hatimu, Dek. :)))

Oke, saya lewati dulu Pokemon dan berbagai macam artinya, juga Awkarin dan Dada-nya, eh maksud saya Gaga-nya.

Saya cuma mau bahas tentang balon yang ada di video terbarunya Awkarin itu, keren anjir, balonnya nyala-nyala. Itu gimana caranya sih? Beli di mana ya? :((( Nggak nggak, bukan itu. Saya cuma mau bahas tentang proses dari ilustrasi yang saya sebutkan di atas; cara menangkap informasi.

Kalo ngomongin masalah informasi, zaman sekarang siapa sih yang nggak dapet informasi (dan harusnya sih dapet), khususnya melalui gadget dan sosial media (misal dari grup, status teman, postingan official account, atau apalah), tinggal diri kita sendiri aja yang mau gimana nangkep dan nyari lebih banyak lagi. Karena masih banyak orang yang hanya tau dari judul, langsung klik share tanpa ba bi bu.

Lihat aja di facebook, orang yang pada share akun-akun nggak jelas yang mengatasnamakan Pipiek Dian Irawati lah, Ust. Yusuf Mansyur lah, Raffi dan Nagita lah, atau siapa saja yang nggak jelas asal-muasalnya. Itu karena mereka dapet informasi yang menurut mereka valid, padahal akun-akun orang besar seperti mereka hampir pasti sudah di-verified, dan tanpa ada embel-embel "like dan bagikan, kalo nggak kalian bakal bintitan segede bola kasti tepat di jidat". Karena dengan sendirinya, orang pasti akan tertarik untuk menyukai dan membagikan sebuah postingan (kalau nemang postingan itu menarik dan bermanfaat bagi orang lain). Dan kalau kalian kira postingan-postingan dari akun yang nggak jelas siapa itu bermanfaat, ya berarti ada yang salah dengan diri kalian dalam menangkap informasi. Wallahualam bisshawaab.

Sedikitnya ada tiga proses yang sebaiknya dilakukan sebelum kalian membagikan sebuah postingan;

Pertama, ketahui dan cari tahu lebih banyak hal apa yang sedang hangat dibicarakan banyak orang, baik di kehidupan nyata, atau di dunia maya.
Kedua, baca postingan itu sampe selesai, kalau perlu diulang-ulang sampe kita bener-bener faham apa maksud dan tujuan postingan itu.
Ketiga, cari sasaran siapa saja yang akan Anda bagi informasi itu (entah itu pacar, gebetan, selingkuhan, pacarnya gebetan, pacarnya selingkuhan, atau membagikan kepada sosial media lain), lalu klik tombol 'share'.

Selesai. Kalau memang mereka yang anda bagi informasi adalah orang yang suka mencari tambahan ilmu, mereka akan mengajak anda berduskusi membahas hal yang anda bagi tadi. Dan kalau mereka tidak bereaksi, ya mungkin karena mereka sudah banyak tahu sebelum anda bagi infornasi, atau bisa juga mereka tidak tertarik dengan hal yang anda bagi, atau bisa jadi mereka tidak tahu sedang berada di zaman apa, yang membuat mereka apatis dengan informasi, yang menjadikan mereka orang yang ketinggalan zaman.

Akhirul kalam, mari lebih banyak baca lagi.