Jumat, 20 Mei 2016

Peraturan Percintaan Tahun 2016

Peraturan Percintaan Tahun 2016

Dengan ini; saya selaku pengguna jasa perasaan yang bernama 'Cinta', mengesahkan dengan segenap keyakinan, bahwa; mencintai seseorang adalah hal yang harus kita persiapkan matang-matang.

Adapun peraturan dalam mencintai, adalah sebagai berikut;

Pasal 1 ayat 1

"Jika sudah banyak di antaranya yang kau lalui, dan kau tinggal dan/atau ditinggal pergi. Kau bisa pikirkan ini; bahwa satu di antara milyaran, adalah sebenar-benarnya kepastian."

Pasal 1 ayat 2

"Dan apabila telah ada satu yang kau pastikan, tapi ternyata bukan kebahagiaan yang kau dapatkan. Boleh saja jika kau sekadar memberi pelajaran contohnya, atau meninggalkan parahnya."

Pasal 1 ayat 3

"Meninggalkan mungkin akan lebih menyakiti satu di antara dua pihak. Tetapi, meninggalkan juga bisa menjadi sebuah kebebasan bagi satu pihak. Satu sama, kan?"

Pasal 1 ayat 4

"Bebas di sini, bukan hanya tentang lepas dari perasaan tertekan karena (selalu) disalahkan. Mengikhlaskan atas dasar kesalahan dalam hal memastikan (kembali ke pasal 1 ayat 1) juga bisa disebut dengan kebebasan."

Pasal 1 ayat 5

"Yang mana dari kebebasan itu sendiri, kita akan sama-sama sadar bahwa; hanya karena kita merasa pasti, semesta tak selalu mengizini."

Pasal 1 ayat 6

"Yakin dan berusaha saling meyakinkan bisa saja menjadi sebuah kekuatan dalam hal mempertahankan kepastian. Dalam hal ini, izin bukan menjadi penghalang dalam mencipta cerita berkelanjutan yang kita harapkan."

Pasal 1 ayat 7

"Egois memang, terdengar kekanak-kanakkan pun. Akan tetapi, jika kita mampu melewati semua bentuk halangan, bukankah gelar kedewasaan akan sama-sama kita dapatkan?"

Dengan ini, saya pribadi khususnya, dan para pembaca pada umumnya, dapat memaklumi bahwa dalam hal mencinta, kita tidak diperbolehkan bertindak seenaknya.

Tertanda

Mas-mas korban Friendzone

Sabtu, 14 Mei 2016

Nona (2)

Selamat Pagi, Siang, Sore, ataupun Malam, Nona. Semoga ketenangan hati dan kelembutan rasa senantiasa tertata di hati dan senyum indahmu. Izinkan saya sedikit berbicara tentang Anda, wahai Nona.

Begini, kalian para Wanita;

- Bukan hanya tentang bagaimana berdandan mengotakkan alis, memerahkan bibir dan menghaluskan pipi menjadi Slogan produk sabun mandi "Selembut sutera".
- Bukan hanya tentang bagaimana pahamnya kalian akan seri terbaru dari produk semacam Maybeline, Wardah, SK-II, LOREAL, atau apapun itu.
- Bukan hanya tentang bagaimana berpose semenarik mungkin untuk menarik Mas-mas Ig'ers yang punya banyak dosa, maksud saya harta.
- Bukan hanya tentang bagaimana menjaga bentuk tubuh dan pita suara agar sewaktu kalian nganu bersama Masmu suara yang kalian keluarkan akan terdengar merdu.
- Bukan hanya tentang bagaimana beranda mayamu penuh jempol yang (saat ini) sudah sama sekali berbeda dengan tujuan utamanya, dan kini menjadi tidak berguna itu.
- Dan bukan hanya apapun yang tujuannya sama, dipandang lebih tinggi dari yang lainnya. Padahal kau tak benar-benar siap dan memiliki bekal untuk bertahta di sana.

Lebih dari itu semua, ada banyak hal yang seharusnya kalian bisa sewajarnya wanita (baik) pada umumnya. Semisal pemikiran klasik yang seperti mewajibkan kalian para wanita untuk bisa memasak (memang tidak sepenuhnya pemikiran seperti itu dimutlakkan hanya kepada kalian para wanita), lelaki pun tidak ada salahnya jika mahir dalam memasak apa saja. Tetapi bukankah sebaiknya kalian bisa (walaupun sedikit) sekadar menggoreng telur untuk sarapan suamimu kelak, atau memasak lauk pauk untuk makan suamimu setelah ia pulang mencarikan nafkah untukmu. Dan mencukupi gizi anak-anakmu nanti di setiap makanan yang ia makan.

Juga tentang wawasan, bukankah sudah menjadi kebutuhan bagi setiap manusia (Lelaki, Wanita, Lelaki yang memaksa diri menjadi Wanita, atau Wanita yang memaksa diri menjadi Lelaki) agar kelak ketika kita ditanyai anak-anak kita, kita tidak asal dalam menjawab dan dipercayai oleh anak kita nanti. Maka dari itu, sesepele membaca buku dan memahami isinya, adalah hal yang sebaiknya kalian lakukan. Di sisi lain, kecukupan pengetahuan tentang Agama juga menjadi hal yang penting bagi setiap manusia.

Maka dari itu, belajar banyak hal tak akan menjadikan kalian kehilangan kecantikan, bahkan akan menambah kecantikanmu itu. Selamat belajar, Nona. Semoga dengan belajarmu, akan menaikkan derajatmu, dan memahalkan dirimu. Agar kelak Lelaki yang akan mendampingimu, adalah Lelaki yang memang sepantasnya bersamamu.

Sekian. Terima kasih sudah membaca. Mari belajar bersama.

Tertanda
Mas-mas pemuja wanita dengan segala kecerdasannya.

Jumat, 13 Mei 2016

Bung (1)

Selamat Pagi, Siang, Sore ataupun Malam wahai pembaca yang Bijak. Semoga kesehatan senantiasa beserta kita di mana pun berada. Pada kesempatan yang berharga ini, saya akan berbicara kepada kalian (yang sejenis dengan saya), Lelaki.

Kuberi tahu, Bung. Lelaki itu;

- Bukan hanya tentang bagaimana bisa mengendarai Ninja yang baik dan benar
- Bukan hanya tentang bagaimana terlihat mentereng dengan celana Cargo merk Carhartt dan selevelnya, T-shirt merk Coconut Island dan selevelnya, dan/atau sepatu Converse CT dan selevelnya
- Bukan hanya tentang bangga dan merasa tinggi dengan wearpack berlogo AHM dan selevelnya
- Bukan hanya bagaimana bisa mengoperasikan sosial media apa saja (yang banyak terdapat mbak-mbak kembalian beli Micin) untuk Anda petantang-petenteng di sana
- Bukan hanya apa saja yang mampu membuatmu terpaksa dilihat para wanita
- Dan bukan hanya tentang apapun yang berdasarkan lembaran kertas pembuat dosa

Tetapi Bung, lelaki sesungguhnya adalah mereka yang tanpa memandang berapa umurnya, bersedia membaca sebanyak yang ia bisa, entah itu buku fisik, E-book, kitabgundul (Promosi, ini nama akun Tumblr saya), koran, majalah, papan reklame, geber pecel lele, atau pun chat zaman dulu bersama mantan kekasihmu. MO DA RO.

Begini Bung, segampang-gampangnya kita manusia dalam mencari ilmu adalah membaca. Apa ternyata kita beda? Kau belajar dengan cara meraba mungkin, atau setelah kau bangun tidur, kau mengetahui semua ilmu yang ada.

Jika seperti itu adanya, Suhu, jadikan saya muridmu.

Karena apa Bung? Karena kita lelaki, manusia pemimpin bagi wanita-wanita kita, menjadi penentu apa yang akan kita jalani bersama wanita kita, dan yang paling penting Bung, kita adalah guru pertama dan terbaik bagi keturunan kita nantinya. Saya rasa blabberan saya di atas sudah cukup, sampai mulut saya berbusa, karena itu juga saya pamit undur diri dari hadapan Anda, Bung (sejujurnya saya takut digebukin dan diarak keliling desa karena celotehan saya).

Selamat membaca Bung, jika pun dalam berpikir kau belum sampai pada tahap itu, bukan urusanku. Karena aku merasa ditugasi terhadap diri sendiri dan kalian tadi, untuk mengingatkan betapa pentingnya kita untuk mereka yang ada di sekitar kita. Sekian. Terima kasih.

Tertanda

Mas-mas yang belum juga muf on dari wanita yang tak sempat dimilikinya.

Rabu, 04 Mei 2016

(Masih) Tentang Zaman Ini

Sebenernya sih pengen, ikut-ikutan adek zaman sekarang. Tapi ya gimana, malu sama kumis. 😯 mwehehehe. Kelihatannya sih emang keren, kekinian, update-able, ada hal yang baru langsung ikutan. DENGAN TANPA MEMIKIRKAN APA YANG SEBENARNYA DILAKUKAN. Ngggg maaf CAPSLOCK tadi tiba-tiba jebol.

Jadi begini, Teman-teman, Mbak dan Mas, Bro dan Bray, Bung dan Nona, Tuan dan Nyonya, manusia hidup (bersosial) itu ada batasan-batasannya, batasan apa? Batas menjaga diri kita sendiri, dari apa? Dari persepsi orang lain yang mungkin memang tak perlu kita pikiri, tapi, tapi apa? Tapi, sebagian dari kebanyakan, pasti akan sekadar memikirkan atau parahnya akan mempermasalahkan. Masalah apa? Hidup-hidup saya kok. Ya memang, hidup anda, saya juga ndak memikirkannya (sama sekali). Lantas apa? Ya coba anda pikir saja sendiri, nih ya;

Ketika Anda sekalian mengikuti, atau terpaksa mengikuti karena tak ingin dicap sebagai seseorang yang ketinggalan zaman ini.

Simpel saja, sesimpel Anda update status di entah sosial media apa (semau-mau Anda), hal yang sedang booming, yang terbaru dari yang baru, yang terlihat lebih keren dari yang sebenarnya keren, dan hal-hal lainnya yang sebenarnya kurang berguna. Sudah saya terangkan di atas bahwa; di sini saya akan membahas pergaulan dan kelakuan adek-adek zaman sekarang dalam bersosial media khususnya. Mereka terlihat seperti anak Ayam yang dengan tanpa sadar mengikuti seekor Bebek sebagai Induknya. Mereka seperti seseorang yang menumpang kendaraan tanpa tahu ke mana tujuannya. Asalkan mereka suka, persetan dengan lainnya, mungkin seperti itu pemikiran mereka. Mungkin

Apa penyebabnya? Begini;

Pertama, tanpa mengatasnamakan Agama A atau B, kita semua jelas sudah tahu jika Bumi kita sudah tua, dalam artian, inilah akhir zaman.

Kedua, media saat ini hanya memikirkan bagaimana mereka mendapatkan banyak uang, menjadi yang paling banyak dibicarakan khalayak luar, dan segala keegoisannya. Kenapa saya mengatakan egois, dengan tanpa dasar pun semua orang awam seperti saya sangat tahu, mana yang dinamakan sebuah tontonan yang menjadi tuntunan, dan mana sebuah tontonan yang menjadi komplotan*1 (baca : semua yang berdasar komplotan, adalah hal yang buruk). Dengan hanya ada satu dua tuntunan, berbanding puluhan komplotan dalam satu media yang sama, bukankah itu egois?

Ketiga, kurangnya pemahaman berdasarkan akal sehat. Maksudnya, mereka yang melihat sesuatu yang terlihat bagus, dengan tanpa mengerti untuk apa, mereka langsung saja menirunya. Contoh: akhir-akhir ini saya sering sekali melihat di sosial media (Facebook khususnya) adek-adek kita yang lucu dan imut berdandan tidak sebagaimana umumnya, bergaya tidak sebagaimana patutnya, dan bertingkah tidak sebagaimana seharusnya. Begini, ya masa adek (masih) berseragam Putih Biru dan pertengahan Putih Abu-abu mukanya terlihat seperti Tante Sosialita dan Ibu-ibu PKK, memang tidak semua. Lagi, yakali adek yang masih seimut itu berfoto dengan pose yang mengundang syahwat om-om seperti saya, jadi kalau (maaf) pelecehan seksual terjadi padanya, bukan sepenuhnya salah tersangka, la wong adeknya juga penasaran (baca : kepengen) dan membuka lowongan kok. Ada lagi, waini lagi adek-adek yang lucu dan imut terkadang membuat pusing pala dedy, seperti berpose mesra dengan terong-terong bantat*2 (tidak menua, tidak bisa dinikmati sebagaimana mestinya) yang katanya kesayangannya -oom aja takut dek mau pose kayagitu, la wong gak ada pasangannya- -__-

Di atas adalah sebagian kecil seperti apa bobroknya pergaulan adek-adek kita khususnya. Bukan berarti saya dan kita yang sudah dewasa tidak melakukannya, banyak juga dari kita yang seperti itu tingkahnya. Jadi, sebelum hal buruk terjadi, minimal kepada diri kita sendiri, beri batasan tentang apa yang kita tampilkan di khalayak orang banyak. Karena cerminan diri kita, tanpa kita sadar orang lain membaca dari hal itu semua (sosial media).

Bukan maksud saya mengatur atau menggurui, karena sudah jelas di blog ini, saya menulis keresahan saya pribadi. Dengan atau tanpa menjelek-jelekkan, kita semua pasti sama-sama mempunyai harapan, generasi yang akan datang adalah generasi pengganti yang patut dibanggakan.

Epilog

Bersenang-senang (walaupun) di atas dinding maya kita sendiri, sebaiknya dipilah lagi dan berhati-hati. Karena sekecil kita mengeluh di sana, ada seseorang yang tengah tertawa dengan terpaksa mengakui, bahwa di zaman ini; murahan bukan hanya benda mati.

NB : 1. kom·plot·an n 1 persekutuan secara rahasia yg bermaksud melakukan kejahatan; gerombolan penjahat; 2 teman melakukan kejahatan; kaki tangan, 2. ban·tat a belum masak benar dan keras (tt roti dsb). Sumber : KBBI

Terima kasih sudah membaca, mari kita peringati dan jaga diri kita sendiri.

Minggu, 01 Mei 2016

Sop(sop)an

Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda entah antara; tempat, keluarga, ataupun watak kepribadiannya. Menurut pandangan saya pribadi, perbedaan tercipta untuk menjadikan kita sebagai manusia yang senantiasa belajar dari manusia lainya.
Salah satunya adalah sopan santun. Hal inilah yang akan saya bahas, karena kebetulan saya sendiri tengah merasakan dampak dari ketimpangan sopan santun yang tersebar; entah itu kurang merata, tidak terjangkaunya suatu tempat, atau memang tertutupnya diri si penerima. Entahlah, saya tidak tahu.
Menurut saya, sopan santun adalah hal wajib dimiliki setiap manusia sebagai bekal hidup bersosial, dalam lingkungan apapun; entah itu pendidikan, pekerjaan, ataupun lingkungan kita tinggal. Karena kurangnya sopan santun akan banyak dampaknya bagi hidup kita, dan itu bukan dampak positif. Serem kan?
Contohnya begini; Sebagai seorang perantau yang tinggal dan mencari penghasilan di daerah lain, kita harus sangat cukup mempunyai bekal sopan santun. Karena sebagai perantau, kita bukan hanya numpang mencari remah-remah rezeki, tapi juga menjadi bagian baru dari lingkungan itu, dan kewajiban kita adalah menyesuaikannya. Saat ini, ada seorang teman baru saya, dia masuk kerja beberapa hari yang lalu. Dan sebagai seorang yang Perfeksionis, saya sangat faham sebab kenapa ia kurang dalam bersopan santun;
Pertama, ini memang pekerjaan pertamanya, sebelumnya belum pernah bekerja apalagi merantau, jadi wajar saja jika sekali ia datang tidak mengetahui kesalahan kecil yang akan mengganggu orang lan, seperti; sekadar menyapu rumah kontrakan, membersihkan kamar mandi, dan hal-hal lainya yang seharusnya dilakukan secara bergantian.
Kedua, mungkin dari lingkungan tempatnya berasal, sopan santun tidak menjadi hal penting. Bisa dikarenakan setiap orang di lingkungan asalnya hanya mementingkan dirinya sendiri, persetan dengan orang lain, yang penting gua aman, bahagia, seperti itu mungkin. Anjir!!!
Ketiga, bisa jadi karena memang dirinya sendiri yang kurang terbuka dengan kehidupan luar, menjadi orang rumahan itu tak selamanya baik. Ketika ia keluar dari zona kehidupannya, bisa saja ia kikuk dan kebingungan apa yang sebaiknya ia lakukan, yang akhirnya malah menjadi sebuah kesalahan. Misalnya, karena selama ini ia hanya hidup di lingkungan rumahnya yang notabene sudah sangat akrab, sesepele hal meminjam sendal tanpa meminta izin mungkin tak menjadi masalah, nah karena sudah menjadi kebiasaan, di lingkungan baru pun ia melakukan hal yang sama, dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi suatu masalah. Bahaya men!
Itu hanya sedikit contoh, hal kecil (kurang sopan santun) yang bisa saja menjadi kesalah pahaman, atau bahkan kematian. Jangan salah.
Dan sekarang saya akan membahas teman baru saya, atau lebih tepatnya keresahan saya pribadi, seperti ini;
Ya masa, ada bantal meskipun ketika ia datang si pemilik bantal itu tidak ada. Lalu ia pakai bantal itu, ketika si pemilik bantal datang, dengan tampang seperti orang nggak punya dosa ia tetap memakai bantal itu. Jadi begini, ada batas di mana benda A milik si A dan benda B milik si B, jika memang si A punya rasa sopan santun yang tinggi, untuk memakai benda milik si B ia akan meminta izin terlebih dahulu. Tidak main nyelonong aja kaya kang Bajaj. Tetapi saya maklumi karena memang ini kali pertama ia menjadi seorang yang keluar dari zona nyamannya.
Epilog
Sopan santun menurut saya pribadi adalah hal yang SANGAT penting. Saya sudah mengalaminya sendiri, sesepele lewat depan sekelompok pemuda tanpa permisi, nyawa saya hampir melayang. Sebagai contoh mungkin sudah cukup, bahwa sopan santun sekecil permisi adalah hal yang sangat penting.
Sekian, mari menjaga sopan santun, biar Indonesia banget. Dan tentunya meminimalisir kita mendapat masalah. Terima kasih sudah membaca.