Sebenernya sih pengen, ikut-ikutan adek zaman sekarang. Tapi ya gimana, malu sama kumis. 😯 mwehehehe. Kelihatannya sih emang keren, kekinian, update-able, ada hal yang baru langsung ikutan. DENGAN TANPA MEMIKIRKAN APA YANG SEBENARNYA DILAKUKAN. Ngggg maaf CAPSLOCK tadi tiba-tiba jebol.
Jadi begini, Teman-teman, Mbak dan Mas, Bro dan Bray, Bung dan Nona, Tuan dan Nyonya, manusia hidup (bersosial) itu ada batasan-batasannya, batasan apa? Batas menjaga diri kita sendiri, dari apa? Dari persepsi orang lain yang mungkin memang tak perlu kita pikiri, tapi, tapi apa? Tapi, sebagian dari kebanyakan, pasti akan sekadar memikirkan atau parahnya akan mempermasalahkan. Masalah apa? Hidup-hidup saya kok. Ya memang, hidup anda, saya juga ndak memikirkannya (sama sekali). Lantas apa? Ya coba anda pikir saja sendiri, nih ya;
Ketika Anda sekalian mengikuti, atau terpaksa mengikuti karena tak ingin dicap sebagai seseorang yang ketinggalan zaman ini.
Simpel saja, sesimpel Anda update status di entah sosial media apa (semau-mau Anda), hal yang sedang booming, yang terbaru dari yang baru, yang terlihat lebih keren dari yang sebenarnya keren, dan hal-hal lainnya yang sebenarnya kurang berguna. Sudah saya terangkan di atas bahwa; di sini saya akan membahas pergaulan dan kelakuan adek-adek zaman sekarang dalam bersosial media khususnya. Mereka terlihat seperti anak Ayam yang dengan tanpa sadar mengikuti seekor Bebek sebagai Induknya. Mereka seperti seseorang yang menumpang kendaraan tanpa tahu ke mana tujuannya. Asalkan mereka suka, persetan dengan lainnya, mungkin seperti itu pemikiran mereka. Mungkin
Apa penyebabnya? Begini;
Pertama, tanpa mengatasnamakan Agama A atau B, kita semua jelas sudah tahu jika Bumi kita sudah tua, dalam artian, inilah akhir zaman.
Kedua, media saat ini hanya memikirkan bagaimana mereka mendapatkan banyak uang, menjadi yang paling banyak dibicarakan khalayak luar, dan segala keegoisannya. Kenapa saya mengatakan egois, dengan tanpa dasar pun semua orang awam seperti saya sangat tahu, mana yang dinamakan sebuah tontonan yang menjadi tuntunan, dan mana sebuah tontonan yang menjadi komplotan*1 (baca : semua yang berdasar komplotan, adalah hal yang buruk). Dengan hanya ada satu dua tuntunan, berbanding puluhan komplotan dalam satu media yang sama, bukankah itu egois?
Ketiga, kurangnya pemahaman berdasarkan akal sehat. Maksudnya, mereka yang melihat sesuatu yang terlihat bagus, dengan tanpa mengerti untuk apa, mereka langsung saja menirunya. Contoh: akhir-akhir ini saya sering sekali melihat di sosial media (Facebook khususnya) adek-adek kita yang lucu dan imut berdandan tidak sebagaimana umumnya, bergaya tidak sebagaimana patutnya, dan bertingkah tidak sebagaimana seharusnya. Begini, ya masa adek (masih) berseragam Putih Biru dan pertengahan Putih Abu-abu mukanya terlihat seperti Tante Sosialita dan Ibu-ibu PKK, memang tidak semua. Lagi, yakali adek yang masih seimut itu berfoto dengan pose yang mengundang syahwat om-om seperti saya, jadi kalau (maaf) pelecehan seksual terjadi padanya, bukan sepenuhnya salah tersangka, la wong adeknya juga penasaran (baca : kepengen) dan membuka lowongan kok. Ada lagi, waini lagi adek-adek yang lucu dan imut terkadang membuat pusing pala dedy, seperti berpose mesra dengan terong-terong bantat*2 (tidak menua, tidak bisa dinikmati sebagaimana mestinya) yang katanya kesayangannya -oom aja takut dek mau pose kayagitu, la wong gak ada pasangannya- -__-
Di atas adalah sebagian kecil seperti apa bobroknya pergaulan adek-adek kita khususnya. Bukan berarti saya dan kita yang sudah dewasa tidak melakukannya, banyak juga dari kita yang seperti itu tingkahnya. Jadi, sebelum hal buruk terjadi, minimal kepada diri kita sendiri, beri batasan tentang apa yang kita tampilkan di khalayak orang banyak. Karena cerminan diri kita, tanpa kita sadar orang lain membaca dari hal itu semua (sosial media).
Bukan maksud saya mengatur atau menggurui, karena sudah jelas di blog ini, saya menulis keresahan saya pribadi. Dengan atau tanpa menjelek-jelekkan, kita semua pasti sama-sama mempunyai harapan, generasi yang akan datang adalah generasi pengganti yang patut dibanggakan.
Epilog
Bersenang-senang (walaupun) di atas dinding maya kita sendiri, sebaiknya dipilah lagi dan berhati-hati. Karena sekecil kita mengeluh di sana, ada seseorang yang tengah tertawa dengan terpaksa mengakui, bahwa di zaman ini; murahan bukan hanya benda mati.
NB : 1. kom·plot·an n 1 persekutuan secara rahasia yg bermaksud melakukan kejahatan; gerombolan penjahat; 2 teman melakukan kejahatan; kaki tangan, 2. ban·tat a belum masak benar dan keras (tt roti dsb). Sumber : KBBI
Terima kasih sudah membaca, mari kita peringati dan jaga diri kita sendiri.