Selasa, 08 November 2016

Puisi (3)

Sebelum Sudah

Bisa Tidak?
Sejenak saja gunakan waktumu untuk tidak bermain-main di dalam ingatanku? Tidak hadir di setiap pendar lampu-lampu jalan. Tidak mengganti bunyi detak jam dinding dengan tawamu yang menjanjikan. Tidak membelaiku lewat semilir angin malam saat aku jalan mencari makan. Tidak berhamburan layaknya isi jalan metropolitan sekembalinya aku dari peraduan. Tidak menghangatkan tubuhku melalui setiap teguk kopi yang telah mendingin di tengah malam.

Bisa tidak?
Ajari aku bagaimana caranya untuk tetap tenang sepertimu, dengan ada atau tanpa sesuatu yang harus kau tahan dan kenang sendirian. Atau kalau mau, kau bisa menceritakan banyak hal yang pernah kau alami, yang nantinya akan membuat tidak terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan menjengkelkan yang kuajukan. Tenanglah, telingaku tidak lebih terbuka dari kesediaanmu untuk menjawabnya, aku takut akan terkesan memaksa.

Bisa tidak?
Bayangkan kalau dirimu adalah sebuah tujuan, yang sebagaimana sebuah tujuan. Ia tetap, tidak lari agar dikejar, tidak sembunyi agar dicari, dan tidak abai agar diratapi. Aku rasa tidak, karena kau tak pernah mau tahu siapa dirimu. Akan kutuliskan siapa dirimu, kau adalah daun yang gugur dan terbang tersapu angin–dan angan. Dan aku adalah ranting yang hanya bisa diam–dan jatuh kemudian.

Jumat, 04 November 2016

Dari Saya Untuk Hari Ini

Terlepas dari Pro-Kontra mengenai demonstrasi hari ini. Saya pribadi menganggap kalau ini adalah hal yang berlebihan--bukankah yang berlebihan itu tidak baik? Wahai Habib-habib kecil, atau jika boleh berlebihan, wahai Tuhan-tuhan kecil.

Saya sendiri melihat masalah ini diawali oleh salah seorang (tentu saja dia adalah orang penting) yang membawa salah satu ayat al-Qur'an di dalam sebuah pembicaraan--yang mungkin banyak orang berpikir bahwa seorang itu bukan bagian dari umat yang dianugerahi kitab al-Qur'an.

Mereka merasa ini adalah sebuah penistaan. Apa boleh buat, sakit hati memang benar-benar menyakitkan. Tetapi mereka juga bebal dengan satu ilmu yang diajarkan semua agama, yaitu toleransi. Bukankah Tuhan memang bersengaja menciptakan makhluk yang berbeda-beda adalah untuk tujuan yaitu sebuah kerukunan--saling melengkapi.

Mereka juga benar, membela hal yang sepatutnya dibela. Dahulu, para semut berbondong-bondong membawa air pada saat Nabi Ibrahim a.s dibakar, makhluk lain berkata "sia-sia saja yang kau lakukan wahai para semut, airmu tidak akan cukup untuk memadamkan api itu.", Lalu para semut menjawab, "biar saja air ini sia-sia, yang kami lakukan adalah bentuk pengabdian kami kepada Allah." Nabi Ibrahim a.s memang tidak dapat terbakar api itu, tentu saja Allah tidak mengizinkannya--karena dia kekasih Allah.

Mungkin mereka (yang berdemonstrasi hari ini, berpikir layaknya semut dahulu), tidak masalah. Yang jadi masalah, apa benar mereka membela Allah? Ini hari Jum'at, saya tidak yakin di antara mereka semua akan melaksanakan kewajiban itu. Entah dikarenakan hal apa pun. Bukankah akan sangat memalukan, di sisi lain mereka berkoar-koar meneriakkan Allahu Akbar, tetapi muadzin yang meneriakkan Allahu Akbar mereka abaikan. Maafkan jika saya bersangka-sangka, kita lihat sendiri saja nanti, semoga ada media yang menyorotnya.

Apa benar mereka membela Tuhan, di sisi lain mereka melupakan sesuatu yang diajarkan Tuhan, yaitu toleransi. Mari mengingat lagi peristiwa Tanjung Balai, di mana Vihara-vihara dibakar, apa yang mereka lakukan? Membawa ke ranah hukum menjadi sebuah penistaan? Berdemonstrasi berlebihan? Silakan kalian jawab sendiri.

Tentu saya juga tahu, hal ini bukan hanya kepentingan sebuah penistaan agama semata. Lebih dari itu semua, ini adalah pesta politik yang diracik sedemikian rupa. Negaraku memang mengagumkan, negaraku juga menyedihkan.

Akhir kata, selamat hari Jum'at. Saya tidak turun ke jalan. Selamat pagi. Allahu Akbar!!!