Mungkin ada benarnya juga, atau karena rasa minder saya saja. Di luar sana, pasti banyak sekali yang sekadar membicarakan atau bahkan misuh-misuh sendiri kepada orang-orang semacam saya. Yang hanya lulusan SMA, tapi mulutnya dipaksa bicara sekelas Mahasiswa. Pasti itu, saya haqqul yakin.
Ya mau bagaimana lagi, setiap manusia kan memiliki seleranya sendiri-sendiri. Serasi atau tidaknya, kembali lagi kepada selera. Jadi, ya, bebas mbok?
Begini, Mas, Mbak. Sebetulnya kowe-kowe pada, tahu apa tidak sih, hakikatnya manusia diciptakan kemudian berpasang-pasangan-- kemudian membuahkan hasil dari bertemunya dua anu, itu untuk apa? Bukankah untuk belajar tho? Nah bicara tentang belajar, menurut Anda belajar itu seperti apa sih? Apa bocah berpakaian putih-merah yang mendewasakan diri, apa adek-adek berseragam putih-biru yang kelakuannya bikin sakit mata, apa mereka yang berseragam putih-abu-abu yang jadi bintang sinetron pembobrok generasi, apa mas-mas dan mbak-mbak berseragam almamater yang pinter-pinter itu, apa?
Menurut saya, belajar bukan tentang tempat pelaksanaannya. Tetapi prosesnya, yang di mana pun dan kapan pun, bisa. Dan yang paling penting dari belajar adalah pelajarannya, yang datangnya bisa dengan cara apapun, dan datang dari siapa pun, tanpa terkecuali.